Tiga Skenario Pertumbuhan Ekonomi Jokowi Jilid II

    Suci Sedya Utami - 19 September 2019 21:38 WIB
    Tiga Skenario Pertumbuhan Ekonomi Jokowi Jilid II
    Ekonomi Indonesia. MI/MOHAMAD IRFAN.
    Jakarta: Pemerintah melalui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) telah membuat rancangan pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) untuk lima tahun mendatang.

    Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan ada tiga skenario pertumbuhan ekonomi yang diajukan untuk periode kedua pemerintahan Presiden Joko Widodo.  Skenario pertama yakni pertumbuhan dengan rata-rata di level 5,4 persen. Skema kedua yakni 5,7 persen dan skema ketiga enam persen.

    "Lima tahun ke depan karena pertumbuhan ekonomi global makin volatile, maka ada tiga skenario," kata Bambang, di Jakarta, Kamis, 19 September 2019.

    Untuk skenario pertama maka pertumbuhan ekonominya harus 5,2 persen di 2020, 5,4 persen di 2021 dan 2022, serta 5,5 di 2023 dan 2024. Sementara untuk skenario kedua pertumbuhan ekonominya harus 5,4 persen di 2020, 5,5 persen di 2021, 5,7 persen di 2022, 5,9 persen di 2023 dan 6,1 persen di 2024. Sedangkan untuk skenario ketiga pertumbuhannya harus berada di 3,3 di 2020, 5,7 persen di 2021, 5,9 persen di 2022, 6,2 persen di 2023 dan 6,5 persen di 2024.

    Bambang mengatakan tiga angka tersebut akan diajukan ke Presiden Jokowi untuk dipilih mana kiranya yang diyakini. Namun dengan mempertimbangkan resesi ekonomi global di tahun depan, Bambang merekomendasikan di angka yang paling buncit.

    "Rekomendasi kami angka bawah karena dunia ini makin tidak bisa ditebak," tutur mantan Menteri Keuangan ini.

    Bambang mengatakan dengan pertumbuhan tersebut diharapkan dapat meningkatkan angka kemiskinan di bawah tujuh persen dan tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,6 persen.

    Selain itu, kata Bambang, pemerintah memprioritaskan investasi sebagai motor utama dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi untuk lima tahun mendatang.

    Bambang mengatakan jika dilihat saat ini, pertumbuhan investasi masih sama dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yakni pada level lima persen. Dia bilang konsumsi tidak bisa membuat ekonomi tumbuh cepat, konsumsi hanya bisa untuk menjadi tumpuan untuk ekonomi tumbuh stabil.

    "Yang bisa buat tumbuh cepat investasi dan ekspor. Tapi ekspor terdampak pelemahan ekonomi global dan perang dagang. Jadi kita ingin investasi lima tahun ke depan jadi motor pendorong ekonomi," ujar Bambang.

    Dia bilang apabila investasi meningkat maka akan mengurangi kemiskinan selain juga pengangguran. Bambang menegaskan investasi adalah upaya untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Sebab angka pengangguran harus diturunkan. Dia mengatakan pengangguran dan kemiskinan bisa diturunkan apabila ekonominya tumbuh tinggi.

    "Kalau pertumbuhan turun maka upaya mengurangi pengangguran dan kemiskinan makin sulit," jelas Bambang.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id