BI Punya Ruang Pangkas Suku Bunga Jadi 3,75%

    Husen Miftahudin - 19 November 2020 08:17 WIB
    BI Punya Ruang Pangkas Suku Bunga Jadi 3,75%
    Ilustrasi. FOTO: MI/SUSANTO
    Jakarta: Bank Indonesia (BI) memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 3,75 persen bulan ini. Penurunan suku bunga kebijakan ini diperlukan guna mendukung agenda pemulihan ekonomi di sisa 2020 dengan tetap memperhatikan tekanan eksternal dan menjaga stabilitas sektor keuangan.

    Hasil kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memandang bahwa langkah penurunan suku bunga diperkirakan tidak terlalu berisiko, dan dapat menstabilkan kembali nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD).

    Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky mengungkapkan mata uang Garuda dalam satu pekan terakhir telah cukup terapresiasi. Hal ini akibat surplus perdagangan yang pada Oktober 2020 lebih besar dari perkiraan sebesar USD3,61 miliar.

    Surplus perdagangan ini menunjukkan perbaikan angka defisit transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD) yang bakal terus berlanjut. Selain itu, aliran masuk modal portofolio yang didukung oleh ketidakpastian di Amerika Serikat selama Pemilihan Presiden dan daya tarik imbal hasil riil Indonesia telah mendorong penguatan rupiah.

    "Mengingat kondisi domestik dan eksternal saat ini secara keseluruhan, kami memandang bahwa BI perlu memangkas suku bunga kebijakan sebesar 25 bps menjadi 3,75 persen di bulan ini," ungkap Riefky, dalam rilis analisis makroekonomi Indonesia Economic Outlook Edisi November 2020, Kamis, 19 November 2020.

    Dari sisi eksternal, jelasnya, banyak negara maju dan negara berkembang mengalami resesi karena mengalami pertumbuhan negatif kuartalan secara berturut-turut pada kuartal III-2020. Meskipun pertumbuhan negatif kuartal ketiga itu lebih baik dari kuartal sebelumnya. Hal ini menunjukkan sinyal menuju fase pemulihan.

    Selain itu, secercah pandangan optimistis mengenai pertumbuhan ekonomi global didukung oleh proyeksi dari International Monetary Fund (IMF) yang merevisi pertumbuhan global sebesar 50 bps dari minus 4,9 persen menjadi minus 4,4 persen di tahun ini, sedikit lebih rendah dibandingkan perkiraannya di Juni meskipun masih dalam resesi yang dalam.

    Namun demikian, menurut Riefky, prospek pemulihan ekonomi untuk kembali ke tingkat pertumbuhan sebelum pandemi sangat bergantung pada langkah-langkah untuk menanggulangi pandemi tersebut.

    "Dengan tidak adanya tekanan inflasi seiring dengan melemahnya permintaan agregat dan aktivitas ekonomi, beberapa bank sentral negara besar telah melonggarkan kebijakan moneternya untuk mendukung dan mempercepat pemulihan di tengah kondisi yang berkepanjangan dan tidak menentu ini," paparnya.

    Sementara di dalam negeri, LPEM melihat bahwa tren inflasi yang rendah menempatkan tingkat inflasi secara keseluruhan di bawah ambang batas kisaran target Bank Indonesia. Hal ini menandakan lemahnya permintaan agregat yang berkepanjangan.

    "Pertumbuhan kredit yang rendah juga dapat menghambat ekonomi untuk pulih sepenuhnya di kuartal terakhir. Oleh karena itu, penurunan suku bunga kebijakan akan mendorong bank untuk mengurangi beban bunga sehingga menurunkan suku bunga kredit dan meningkatkan likuiditas di pasar keuangan," pungkas Riefky.

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id