Strategi Pemerintah Hadapi Risiko Taper Tantrum

    Husen Miftahudin - 01 Juni 2021 15:29 WIB
    Strategi Pemerintah Hadapi Risiko <i>Taper Tantrum</i>
    Ilustrasi. Foto: Medcom.id



    Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati membeberkan strategi dalam menghadapi risiko ketidakpastian pasar keuangan global yang diperkirakan masih akan berlangsung. Salah satunya dengan mematok asumsi suku bunga (yield) Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun 2022 di kisaran 6,32 persen sampai 7,27 persen.

    "Tingkat suku bunga atau yield ditentukan oleh mekanisme pasar. Asumsi tingkat suku bunga SUN 10 tahun pada 2022 mencerminkan kebutuhan pembiayaan APBN serta risiko ketidakpastian pasar keuangan global yang diperkirakan masih akan berlangsung," ucap Sri Mulyani dalam Rapat Paripurna DPR mengenai Tanggapan Pemerintah terhadap Pandangan Fraksi atas (KEM-PPKF) RAPBN 2022, dikutip Selasa, 1 Juni 2021.

     



    Dia menekankan bahwa salah satu risiko yang harus diwaspadai terhadap tingkat imbal hasil SUN adalah perubahan kebijakan moneter negara maju, khususnya Amerika Serikat, yang didorong oleh pemulihan ekonomi yang cepat serta stimulus fiskal yang besar.

    "Kita pernah belajar dari fenomena terdahulu seperti taper tantrum di 2013, ekspektasi normalisasi kebijakan moneter AS dapat mendorong pembalikan arus modal dari negara berkembang," paparnya.

    Oleh karena itu, pemerintah akan terus bersinergi dengan otoritas moneter dan jasa keuangan dalam melakukan pemantauan dan mengambil langkah-langkah kebijakan secara antisipatif dan terkoordinasi. Salah satu langkah sinergi dengan otoritas lain seperti Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah terkait dengan pendalaman dan pengembangan pasar keuangan.

    Sri Mulyani sepakat bahwa pasar keuangan domestik yang dalam, aktif, dan likuid sangat diperlukan dalam meningkatkan stabilitas pasar. Karena dengan begitu, maka pada gilirannya akan menurunkan yield SUN.

    "Pasar keuangan yang  dalam, aktif, dan likuid, akan menjadi sumber pembiayaan yang stabil, efisien, dan berkesinambungan. Hal ini akan meminimalkan dampak risiko volatilitas  aliran modal investor asing terhadap yield SUN," tutur Sri Mulyani.

    Pernyataan Sri Mulyani tersebut merupakan jawaban dan tanggapan atas peringatan sejumlah anggota dewan dalam Rapat Kerja bersama dengan DPR. Pada saat itu, Anggota Komisi XI DPR Misbakhun mempertanyakan upaya pemerintah yang lebih nyata dalam menghadapi risiko ini.

    Menurutnya, pemerintah bisa menyesuaikan yield SUN agar tetap menarik di tengah kondisi yang mengkhawatirkan. Apalagi, Bank Indonesia saat ini juga sudah menurunkan suku bunga acuan menjadi 3,5 persen, yang merupakan suku bunga terendah sepanjang sejarah.

    "Kenapa BI bisa turunkan signifikan suku bunga tetapi yield surat utang masih dalam kisaran yang setinggi tujuh persen? Ini padahal sama-sama instrumen pembiayaan, hanya saja satu moneter dan satu fiskal," ucapnya kala itu.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id