Angka Kemiskinan Era Jokowi Terendah Sepanjang Sejarah

    Arga sumantri - 20 Maret 2019 05:00 WIB
    Angka Kemiskinan Era Jokowi Terendah Sepanjang Sejarah
    Pengamat Ekonomi Lana Soelistianingsih. Medcom.id/ Eko N
    Jakarta: Pengamat Ekonomi Lana Soelistianingsih menilai pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla telah mampu menekan angka pengangguran. Penurunan jumlah tingkat pengangguran hingga 5,3 persen mendekati target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. 

    "Yakni di angka empat hingga lima persen merupakan suatu prestasi positif. Dalam hal ketenagakerjaan sudah mulai dekat dengan target," kata Lana saat dihubungi, Selasa, 19 Maret 2019. 

    Ia menambahkan pemerintah juga telah menurunkan rasio tingkat kemiskinan yang semula double digit menjadi 9,82 persen. Ia menyebut berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) angka kemiskinan ini paling rendah dalam sejarah Indonesia.

    Lena menyatakan anggaran bantuan sosial juga meningkat dari Rp138 triliun menjadi Rp180 triliun dalam dua tahun belakangan. Penaikan hampir Rp40 ini cukup membantu mengurangi kemiskinan.

    "Jadi harus dilanjutkan," ucap juga Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia itu. 

    Menurut Lana yang masih jadi pekerjaan pemerintah adalah menurunkan ketimpangan ekonomi. Target ini memang cukup berat lantaran perlu adanya kesinambungan kebijakan ekonomi jangka panjang.

    Ia menjelaskan ratio gini dua tahun terakhir hanya turun 0,3 persen. Mengatur ketimpangan ini tidak mudah karena gini koefisien itu terkait dengan tingkat pendapatan orang paling kaya, dan tingkat pendapatan orang paling bawah.

    "Ya kalau yang paling kaya makin kaya dengan cepat, yang paling bawah susah untuk mengejar. Di situ diluar kontrol pemerintah," ujar dia.

    Lana menyambut baik program tiga kartu sakti Jokowi, yakni Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS). Keberadaan tiga kartu tersebut, menurut dia, cukup membantu mengurangi tingkat kemiskinan,

    Perbaikan secara terus menerus harus tetap dilakukan. Ia menyarankan bantuan sosial di masa mendatang bukan sekadar berbentuk uang tunai. Namun, bisa dalam hal lain seperti adanya lapangan kerja di pedesaan.

    "Sekarang juga sudah bergulir dengan dana desa, itu pun juga meningkatkan ketenagakerjaan di pedesaan. Jangan sampai program ini terhenti," pungkas dia.




    (SCI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id