RI Raup Untung di Tengah Perang Dagang

    Ilham wibowo - 24 Juni 2019 16:23 WIB
    RI Raup Untung di Tengah Perang Dagang
    Kepala BPS Suhariyanto. MI/Adam Dwi.
    Jakarta: Neraca perdagangan Indonesia yang surplus pada Mei 2019 dinilai memberikan efek positif di tengah situasi perang dagang Amerika Serikat dengan Tiongkok. Kinerja ekspor migas maupun nonmigas RI tercatat mengalami peningkatan.

    Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pencapaian positif  neraca perdagangan Indonesia selama Mei 2019 lebih baik ketimbang bulan sebelumnya. Perkembangan ekspor dan impor dalam periode Mei tercatat mengalami surplus sebesar USD0,21 miliar. 

    "Saya bilang positif karena surplus saja meskipun tidak pada posisi ideal, setidaknya masih bagus dibanding tingkat defisit," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam pemaparan di gedung BPS, Jakarta, Senin, 24 Juni 2019. 

    Kinerja neraca perdagangan Mei 2019 dipengaruhi kenaikan ekspor sebesar 12,42 persen atau menjadi USD14,74 miliar dibanding bulan sebelumnya. Sementara nilai impor pada periode yang sama mengalami penurunan sebesar 5,62 persen atau menjadi USD14,53 miliar. 

    Meskipun angka surplus tercatat tipis, Indonesia telah memanfaatkan peluang akibat dampak buruk situasi perang dagang.  Suhariyanto mengharapkan kinerja yang baik ini bisa terus terjaga dan ditingkatkan. 

    "Pada posisi ideal harusnya ekspor naik kemudian impor turun, tetapi seperti yang saya bilang untuk menggenjot ekspor tantangannya luar biasa," ungkapnya. 

    Tantangan eksternal cukup berat dihadapi untuk bisa terus menggenjot ekspor baik sektor migas maupun nonmigas. Banyak negara bahkan belum mampu mengubah catatan pertumbuhan ekonominya lantaran pelemahan global.    

    "Perekonomian negara-negara utama seperti Tiongkok, Singapura melemah, kecuali AS pada triwulan I, ketika mereka melemah tentu saja permintaan melemah," papar Suhariyanto. 

    Suhariyanto menambahkan bahwa tak boleh terlena dengan angka surplus RI pada Mei 2019. Kinerja ekspor masih perlu menjadi perhatian lantaran lebih banyak mengandalkan komoditas seperti batu bara dan kelapa sawit. 

    "Harga komoditas berfluktuasi, terbuti  volume beberapa komoditas seperti sawit dan batu bara sebetulnya naik tetapi karena harga jatuh dia juga jatuh. Kemudian juga masih ada kendala perang dagang meskipun ada persoalan di dalam negri harus dibenahi dengan upaya melakukan hilirisasi," ucapnya. 




    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id