BI Proyeksi November 2020 Inflasi 0,23%

    Husen Miftahudin - 20 November 2020 15:14 WIB
    BI Proyeksi November 2020 Inflasi 0,23%
    Ilustrasi. FOTO: MI/USMAN ISKANDAR
    Jakarta: Bank Indonesia (BI) memprediksi perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) sepanjang November 2020 terjadi inflasi sebesar 0,23 persen (mtm). Tingkat perkembangan harga ini tercermin dari data Survei Pemantauan Harga (SPH) yang dilaporkan 46 kantor perwakilan BI pada pekan ketiga bulan ini.

    "Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi November 2020 secara tahun kalender sebesar 1,19 persen (ytd), dan secara tahunan sebesar 1,55 persen (yoy)," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko, dalam rilis perkembangan indikator stabilitas nilai rupiah, Jumat, 20 November 2020.

    Penyumbang utama inflasi di periode laporan berasal dari komoditas daging ayam ras sebesar 0,09 persen (mtm), telur ayam ras sebesar 0,04 persen (mtm), bawang merah sebesar 0,03 persen (mtm), cabai merah dan cabai rawit masing-masing sebesar 0,02 persen (mtm), serta minyak goreng, tomat, bawang putih, dan jeruk masing-masing sebesar 0,01 persen (mtm).

    Sementara itu, komoditas yang menyumbang deflasi pada periode laporan berasal dari komoditas emas perhiasan sebesar 0,02 persen (mtm) dan tarif angkutan udara sebesar 0,01 persen (mtm).

    Terkait hal ini, tegas Onny, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu.

    "Termasuk langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan," ungkap Onny.

    Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa perkembangan harga pada Oktober 2020 mengalami inflasi sebesar 0,05 persen. Secara umum BPS melihat adanya kenaikan harga komoditas sehingga menyebabkan inflasi pada bulan lalu tersebut.

    Inflasi utamanya terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau dengan tingkat inflasi sebesar 0,29 persen dan andil inflasi sebanyak 0,07 persen. Adapun komoditas dominan yang memberikan andil inflasi paling besar pada kelompok ini adalah cabai merah sebesar 0,09 persen, bawang merah 0,02 persen, dan minyak goreng sebesar 0,09 persen.

    Secara umum, inflasi yang terjadi pada Oktober 2020 terutama disumbang oleh harga barang-barang yang bergejolak (volatile price) di mana terjadi inflasi sebesar 0,40 persen dan sumbangannya kepada inflasi adalah 0,07 persen.

    Adapun inflasi inti pada Oktober 2020 adalah sebesar 0,04 persen dan sumbangannya kepada inflasi adalah 0,03 persen. Untuk kelompok inflasi inti ada kenaikan harga yakni pada nasi dan lauk pauk sebesar 0,01 persen, tetapi di sisi lain ada penurunan harga emas perhiasan yang memberikan andil kepada deflasi sebesar 0,01 persen.

    Sementara untuk harga-harga yang diatur pemerintah pada Oktober 2020 mengalami deflasi 0,15 persen dan andilnya kepada deflasi adalah 0,03 persen. Ini karena ada penurunan tarif angkutan udara dan penurunan tarif listrik dengan andilnya kepada deflasi untuk tarif listrik adalah 0,01 persen.

    Secara tahun kalender atau year to date (ytd) sejak Januari hingga Oktober 2020, tingkat inflasi mencapai sebesar sebesar 0,95 persen. Sementara inflasi tahunan atau year on year (yoy) dari Oktober 2019 sampai Oktober 2020 adalah sebesar 1,44 persen.

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id