comscore

Menilik Efek Domino Dampak Kenaikan Suku Bunga Fed ke Ekonomi Indonesia

Annisa ayu artanti - 08 Juni 2022 11:19 WIB
Menilik Efek Domino Dampak Kenaikan Suku Bunga Fed ke Ekonomi Indonesia
Gedung The Fed. FOTO: Xinhua/Liu Jie
Jakarta: Federal Reserve (The Fed) sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,5 persen dan menargetkan suku bunga dana federal berada di kisaran 0,75-1 persen. Kebijakan tersebut ditempuh untuk menetralisir kondisi inflasi Amerika Serikat (AS) yang berada di level tinggi.

Seperti diketahui, pada Maret 2022, kenaikan tahun ke tahun (yoy) inflasi AS telah mencapai 8,4 persen atau rekor tertinggi dalam 41 tahun terakhir. Sebagai upaya lanjutan, selain kenaikan suku bunga, The Fed berencana menyusutkan neraca gemuk mereka yang sudah menyentuh USD9 triliun mulai Juni 2022.
Akibat aksi Fed, pasar keuangan global langsung merespons negatif. Pasalnya, inflasi global sampai saat ini masih belum bisa dikendalikan, adanya peningkatan inflasi akibat dampak perang Rusia-Ukraina, terhambatnya rantai pasokan dari Tiongkok terkait isolasi covid-19 yang sangat ketat, hingga langkah Uni Eropa yang menghentikan impor minyak dari Rusia.

Kenaikan suku bunga ini tentunya juga berdampak pada perekonomian Indonesia. Dengan naiknya suku bunga The Fed, Bank Indonesia (BI) tentu akan mengikuti kenaikan ini dengan menaikkan suku bunga acuannya. Hal ini akan memicu terjadinya tekanan ekonomi di Indonesia karena konsumen belum siap menghadapi kenaikan suku bunga.


Kenaikan suku bunga The Fed akan meningkatkan beban masyarakat Indonesia, melalui bunga KPR, bunga kredit kendaraan bermotor, hingga bunga pinjaman modal usaha akan mengalami kenaikan juga.

CEO Grant Thornton Indonesia Johanna Gani memandang kenaikan suku bunga The Fed akan memberikan dampak kepada Indonesia. Salah satunya pada nilai tukar rupiah, dan rupiah akan terdepresiasi atau melemah.

"Akan tetapi, kekuatan nilai tukar tidak hanya dapat ditentukan oleh faktor global namun juga fundamental ekonomi suatu negara," kata Johanna, dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 8 Juni 2022.

Bersiap diri

Oleh karena itu, lanjutnya, pemerintah dan Bank Indonesia harus bersiap diri. Di sisi APBN, pelemahan rupiah dapat membebani pembayaran utang dan obligasi dalam dolar, sedangkan dari sisi moneter BI harus dapat menjaga volatilitas dan arus modal asing sehingga pelemahan rupiah dapat tertahan pada level yang masih tergolong aman.

"Pemulihan ekonomi dan kuatnya fundamental Indonesia akan tetap menjadi penopang pasar saham dan obligasi Indonesia kedepannya," ujarnya

Di sisi lain, menurut Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad, kebijakan suku bunga The Fed  akan mendorong larinya aliran modal dari negara berkembang termasuk Indonesia ke AS, yang memungkinkan terjadinya capital outflow di mana rupiah akan semakin melemah.

Jika rupiah melemah, ia menambahkan, maka beban utang pemerintah akan meningkat karena banyaknya utang pemerintah dalam bentuk mata uang asing.


(ABD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id