comscore

Indef Minta Pemerintah Segera Benahi Manajemen Devisa

Ilham wibowo - 14 Agustus 2018 07:16 WIB
Indef Minta Pemerintah Segera Benahi Manajemen Devisa
Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati (Foto: Medcom.id/Ilham Wibowo)
Jakarta: Pemerintah Indonesia dinilai perlu menangkap langkah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan terkait ancaman tarif dari Amerika Serikat (AS) sebagai pembelajaran. Diperlukan persiapan matang guna menghidari kondisi keuangan yang memburuk serta sentimen negatif investor.

"Ini pelajaran bagi kita, saya rekomendasikan pemerintah melakukan manajemen devisa. Tapi mengelola devisa itu jangan sampai dinilai seperti yang Erdogan lakukan, intervensi pasar," ujar Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati, ditemui usai diskusi, di Tjikini Lima Restaurant and Cafe, Jakarta Pusat, Senin 13 Agustus 2018.
Kebijakan Erdogan yang dinilai mengintervensi pasar modal secara langsung itu direspons buruk oleh para investor. Menurut Enny kondisi tersebut perlu diantisipasi lantaran tidak menutup kemungkinan merembet ke negara berkembang di Asia.

"Ada kebijakan yang langsung untuk tujuan pengendalian tapi tidak dipenuhi justru pengaruhi peringkat dan intervensi pasar maka jatuh stigma negatif pasar keuangan Turki, hingga sentimen negatif sektor keuangan di Turki," ungkapnya.

Pemerintah Indonesia dinilai perlu memperkuat Devisa Hasil Rkspor (DHE) dengan cara yang natural. Dengan demikian, kata Enny, mata uang dolar Amerika Serikat (USD) bakal masuk untuk memperkuat nilai mata uang rupiah.

"Sangat mungkin karena struktur ekspor kita mayoritas ekspor komoditas, mestinya dia tidak butuh bahan baku impor, kalau butuh impor dia juga hasilkan USD," ucapnya.

Tak cukup itu, masih kata Enny, pemerintah juga dinilai perlu mengambil langkah tegas dalam mereformasi sektor transaksi kepabeanan. Produsen potensial pun perlu mendapat prioritas agar bisa masuk pasar ekspor tanpa perlu proses yang rumit.

"Melakukan ekspor itu seharusnya langsung oleh produsen pertambangan, perikanan, bukan pedagang. Sehingga USD yang mereka terima dibawa ke dalam negeri," tuturnya.

Enny menambahkan sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) juga perlu mendapat perhatian lebih. Sebab, pasar ekspor saat ini mesti dilakukan oleh pedagang dan hanya dimungkinkan untuk untuk perusahaan besar.

"Struktur usaha kita 99 persen UMKM, ini celah bagian utuh untuk manajemen devisa. Jadi tidak hanya sekadar mewacanakan Indonesia National Single Window (INSW) tetap saja prosedur proses ekspor-impor rendah sehingga DHE itu tidak masuk," pungkas Enny.

 

(ABD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id