Rupiah Berangsur Menguat Sejak Awal September

    Ade Hapsari Lestarini - 18 September 2019 13:06 WIB
    Rupiah Berangsur Menguat Sejak Awal September
    Ilustrasi. FOTO: MI/Panca Syurkani.
    Jakarta: Ekonom LPEM FEB UI Febrio Kacaribu mencatat gerak rupiah berangsur-angsur menguat sejak awal September 2019 menjadi Rp13.950 per USD akibat adanya peningkatan arus modal dalam beberapa pekan terakhir.

    "Secara year to date (ytd), rupiah sekarang terlihat cukup baik dibandingkan dengan pasar negara berkembang lainnya, yakni terapresiasi sebesar 3,56 persen (ytd)," kata dia dalam seri analisis makroekonominya, Rabu, 18 September 2019.

    Meskipun pertumbuhan ekonomi lebih rendah dari yang diperkirakan (5,05 persen) pada triwulan II-2019, pertumbuhan Indonesia masih relatif lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya. Sehingga mendorong sentimen positif di kalangan investor dan mendorong aliran masuk modal untuk kembali ke pasar keuangan Indonesia.

    Surplus neraca perdagangan sebesar USD85 juta pada Agustus diperkirakan akan memberikan sinyal positif pada peningkatan kinerja neraca berjalan, yang berada di tingkat 3,0 persen pada triwulan II-2019.

    "Kami memperkirakan CAD akan lebih baik di triwulan III-2019 sebesar 1,9 persen. Tanda-tanda pemulihan harga minyak sawit baru-baru ini secara umum akan membantu ekspor. Prospek neraca berjalan yang lebih baik akan mengurangi risiko terjadinya capital outflow," jelasnya.

    BI mengakumulasi lebih banyak cadangan devisa bulan lalu sebesar USD126,4 miliar, mencapai angka tertinggi sejak Februari 2018. Cadangan tersebut diperlukan sebagai penyangga untuk potensi terjadinya guncangan global di masa yang akan datang.

    Di sisi lain, keputusan tingkat suku bunga the Fed mendatang menjadi semakin tidak pasti dibanding sebelumnya. Persepsi pasar pada kemungkinan penurunan suku bunga saat pertemuan FOMC telah menurun signifikan dalam beberapa hari terakhir.

    "Data yang lebih baik dari yang diperkirakan pada kegiatan ekonomi AS baru-baru ini memiliki banyak pengaruh terhadap hal ini. Terlepas dari perkembangan tersebut, kami melihat bahwa the Fed akan terus melanjutkan sikap kebijakan dovish-nya," paparnya.

    Akan tetapi, untuk pertemuan FOMC bulan ini, kemungkinan penurunan suku bunga the Fed sebesar 25 basis poin semakin tidak pasti menunjukkan tambahan ketidakpastian kebijakan moneter AS.

    BI akan tetap perlu membaca pergerakan pasar di masa mendatang. Tren arus modal masuk yang berkelanjutan akan semakin menurunkan suku bunga pasar, memberikan ruang lebih bagi BI untuk kembali memangkas tingkat suku bunga.

    "Kami melihat bahwa perbedaan bunga saat ini masih cukup menarik untuk menghasilkan aliran modal masuk. Mengingat perkembangan kondisi internal dan eksternal, kami melihat BI harus menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 5,25 persen bulan ini sebagai langkah awal untuk mengantisipasi perlambatan ekonomi global dan mendorong pertumbuhan domestik," pungkasnya.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id