SWF Bisa Jadi Opsi Keluar dari Jebakan Negara Kelas Menengah

    Antara - 25 Januari 2021 20:18 WIB
    SWF Bisa Jadi Opsi Keluar dari Jebakan Negara Kelas Menengah
    Ilustrasi. Foto: Medcom.id
    Jakarta: Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat menilai Lembaga Pengelola Investasi (LPI) alias Sovereign Wealth Fund (SWF) yang kini bernama Indonesia Investment Authority (INA), bisa menjadi opsi Indonesia untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan kelas menengah atau middle income trap.

    "SWF menjadi terobosan yang patut ditempuh agar Indonesia masih bisa keluar dari risiko middle income trap, tanpa membebani kondisi keuangan negara yang saat ini sudah begitu besar," ujar Budi Hikmat dilansir dari Antara, Senin, 25 Januari 2021.

    Menurut Budi, peran SWF menjadi sangat penting bagi Indonesia. Mengutip laporan Bank Dunia tahun 2014 bertajuk Indonesia: Avoiding the Trap, Indonesia disebut berisiko "growing old before growing rich" alias menua sebelum kaya jika pertumbuhan ekonomi rata-rata dalam periode 2013-2030 hanya berkisar enam persen.

    Untuk mencegah itu, pemerintah berupaya memperkuat infrastruktur dan sumber daya manusia, mengikuti saran Bank Dunia.

    Namun, lanjut Budi, polemik perang dagang 2019 dan pandemi covid-19 di 2020 telah memperburuk risiko tersebut pada 2030, tepatnya saat penduduk Indonesia mulai menua.

    Upaya mempercepat penyediaan infrastruktur untuk memacu produktivitas dan daya saing telah memperberat kondisi keuangan perusahaan milik negara (BUMN).

    "Negara ini harus bisa meningkatkan PDB per kapita yang saat ini sekitar USD4.500 per tahun menjadi minimal USD12 ribu per tahun dalam waktu 10 tahun hingga 2030. Atau butuh pertumbuhan per tahun 10,3 persen dalam dolar," katanya.

    Sementara itu, beban negara bakal bertambah apabila BUMN tersebut jatuh bangkrut meninggalkan infrastruktur yang belum membuahkan hasil. Di samping itu, beban pembayaran bunga naik, dari sekitar 12 persen pendapatan negara menjadi 21 persen.

    "Itu adalah beban yang luar biasa tinggi sehingga membatasi negara dalam berutang," ujar Budi.

    Budi menuturkan secara eksternal, pascapandemi covid-19 dunia dibanjiri oleh limpahan likuiditas yang luar biasa. Kelebihan likuiditas yang tercermin dengan rendahnya suku bunga, diyakini dapat memicu asset reflation, selain pelemahan dolar.

    Terkait SWF, Budi mengatakan SWF di Indonesia unik karena berbeda dengan model SWF negara-negara maju. Sebagaimana yang disampaikan oleh Tim tenaga ahli Kemenkeu Ahmad Yani, model SWF negara maju seperti kendaraan investasi atau investment vehicle untuk melipatgandakan kekayaan di saat terjadi krisis, sehingga pemasukan negara maju tetap terselamatkan jika sumber penerimaan negara terimbas krisis.

    Beberapa negara maju dan tetangga yang telah memiliki SWF yakni Singapura dengan Temasek Holding, Malaysia dengan Khazanah, dan Norwegia dengan Norway Government Pension Fund Global.

    Sementara, SWF di Indonesia justru ditujukan untuk mengelola kekayaan investasi dari luar dengan mengalokasikannya ke proyek-proyek nasional, seperti infrastruktur, dan seterusnya. Untuk itu, peran SWF sangatlah penting bagi Indonesia.

    Meski demikian, untuk menghindarkan SWF dari kepentingan politik, Budi menyarankan SWF dikelola oleh pengurus (baik komisaris dan direksi) yang memiliki integritas, governance, dan kapasitas kompetensi yang mumpuni dalam mengelola investasi, agar Indonesia tak akan kehilangan kepercayaan dari investor negara lain.

    "SWF sebagai pertaruhan martabat Indonesia dalam menjaga kepercayaan negara luar. Kita berharap SWF bisa berjalan lancar dan profesional," pungkasnya. 

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id