Pemerintah Diminta Waspadai Risiko Pelebaran Defisit Anggaran

    Eko Nordiansyah - 09 April 2020 12:12 WIB
    Pemerintah Diminta Waspadai Risiko Pelebaran Defisit Anggaran
    Pemerintah Diminta Waspadai Risiko Pelebaran Defisit Anggaran - - Foto: MI/ Rommy Pujianto
    Jakarta: Pemerintah diminta mewaspadai berbagai risiko akibat pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kebijakan stimulus fiskal, pelebaran defisit dan pembiayaan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

    "Besarnya stimulus menyiratkan pelebaran defisit sekaligus juga besarnya kebutuhan pembiayaan yang harus dilakukan pemerintah," kata Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, 9 April 2020.

    CORE Indonesia memandang setidaknya ada empat risiko yang perlu diperhatikan pemerintah akibat rencana pelebaran defisit dan pembiayaan hingga 2022. Pertama yaitu, risiko dominasi kepemilikan asing pada surat utang pemerintah.

    Dengan melebarnya defisit anggaran tentunya akan mendorong pemerintah untuk menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) sebagai salah satu sumber pembiayaan defisit yang semakin besar. Sayangnya penerbitan SUN masih sangat bergantung pada investor asing.

    Sekitar 35 sampai 40 persen SUN yang diterbitkan pemerintah dipegang oleh investor asing. Angka ini relatif besar jika dibandingkan dengan negara-negara peer seperti Thailand, Malaysia, ataupun Tiongkok.

    Kondisi ini menjadikan struktur pembiayaan anggaran akan sangat rentan terhadap pelarian modal secara tiba-tiba (sudden capital outflow).


    "Contoh teranyar bisa dilihat pada Februari dan Maret lalu ketika dana asing keluar sebanyak Rp145 triliun dari surat utang pemerintah. Dampaknya imbal hasil SUN meningkat dan beban biaya penerbitan SUN di masa mendatang menjadi lebih besar," jelasnya.

    Kedua, risiko pelemahan nilai tukar. Tingginya kepemilikan asing pada surat utang pemerintah juga meningkatkan risiko sudden capital outflow yang akan mendorong pelemahan nilai tukar. Selama Januari sampai dengan akhir Maret, rupiah melemah sebesar 17,4 persen.

    "Pelemahan ini salah satunya disebabkan oleh aliran modal keluar yang terjadi di pasar keuangan. Jika dibandingkan dengan negara lain, pelemahan nilai tukar rupiah merupakan salah satu pelemahan mata uang terdalam di dunia," ungkap dia.

    Ketiga, risiko crowding out. Hal ini bisa terjadi karena pelebaran defisit anggaran akan menyerap banyak likuiditas dari perbankan. Dampaknya, swasta akan semakin kesulitan mencari sumber pembiayaan dari dalam negeri.

    "Kalaupun mereka mencari sumber pembiayaan dari dalam negeri melalui penerbitan surat utang (obligasi), mereka harus menawarkan surat utang dengan imbal hasil yang lebih tinggi untuk bersaing dengan surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah," ujarnya.

    Terakhir, risiko peningkatan utang luar negeri swasta. Jika pihak swasta kesulitan mencari sumber pembiayaan dari dalam negeri maka opsi utang luar negeri menjadi pilihan yang lebih menarik, terutama ketika suku bunga di luar negeri cenderung menurun.

    Peningkatan utang luar negeri swasta perlu menjadi perhatian karena 89 persen utang luar negeri swasta berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) dan rentan terhadap fluktuasi nilai tukar. Risiko bertambah bagi swasta yang menjual barang dan jasa yang terkait komoditas.


    "Potensi pelemahan harga komoditas bisa berdampak terhadap memburuknya cash flow perusahaan dan berpotensi meningkatkan risiko gagal bayar. Faktanya pertumbuhan utang luar negeri swasta yang bergerak di sektor komoditas lebih tinggi dibandingkan sektor-sektor lain seperti manufaktur ataupun keuangan," pungkas dia.  



    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id