4 Negara Resesi Akibat Covid-19, Bagaimana Indonesia?

    Ade Hapsari Lestarini - 03 Agustus 2020 18:34 WIB
    4 Negara Resesi Akibat Covid-19, Bagaimana Indonesia?
    Foto: dok MI/Sumaryanto.
    Jakarta: Empat negara besar di dunia sudah terjungkal akibat resesi ekonomi. Pandemi covid-19 menjadi faktor terbesar resesi ekonomi ini.

    Negara-negara tersebut di antaranya Amerika Serikat (AS), Jepang, Korea Selatan, dan Singapura. Kinerja ekonomi kuartal II-2020 negara-negara ini terus menyusut.

    Lalu bagaimana dengan Indonesia? Sudahkah Tanah Air kita ini masuk ke jurang resesi?

    Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengakui jika krisis akibat korona ini berbeda dengan krisis pada 1998 dan 2008. Pemerintah pun berupaya mengatasi krisis dengan menyiagakan stimulus fiskal hingga Rp695,2 triliun dan memperlebar defisit anggaran hingga 6,34 persen.

    Sri Mulyani menuturkan krisis kali ini berbeda karena pemerintah harus melindungi manusia dan perekonomiannya sekaligus. Tak dimungkiri, pandemi covid-19 juga telah memukul perekonomian masyarakat secara luas termasuk rumah tangga dan pelaku usaha, terutama UMKM.

    Namun demikian, dirinya tetap mewaspadai ancaman resesi setelah Singapura mencatatkan pertumbuhan ekonomi negatif selama dua kuartal berturut-turut. Meski begitu, Sri Mulyani menyebut sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia maupun Singapura cukup berbeda.

    Baca: Daftar Negara Masuk Jurang Resesi Akibat Covid-19

    Menurut dia ekonomi Singapura sangat bergantung pada perdagangan internasional. Ketika terjadi pembatasan sosial akibat pandemi covid-19, semua kegiatan perdagangan internasional terhenti sehingga Singapura kehilangan sumber ekonominya.

    Sementara Indonesia, sumber pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada tingkat konsumsi, investasi, dan ekspor. Walaupun berbeda dengan Singapura namun pemerintah tetap mewaspadai ancaman resesi, sehingga seluruh instrumen disiapkan guna menjaga perekonomian.

    Lain halnya dengan analisis Core Indonesia yang menilai resesi ekonomi Indonesia sudah di depan mata. Tanda-tanda tersebut mulai tampak pada lambannya pergerakan sejumlah sektor di dalam negeri.

    Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohammad Faisal mengatakan kontraksi ekonomi kemungkinan terjadi pada kuartal II dan kuartal III tahun ini. Sebab, penerapan kebijakan kenormalan baru (new normal) sejak Juni 2020 tidak serta merta menyehatkan ekonomi nasional.

    Baca: Resesi Ekonomi RI di Depan Mata

    "Ancaman resesi ekonomi nasional itu di depan mata, meski sekarang kita belum masuk ke resesi kemungkinan besar kita perkirakan kontraksi akan terjadi," katanya dalam video conference di Jakarta, Selasa, 21 Juli 2020 lalu.

    Jika terjadi resesi, maka ini menjadi pengalaman pertama bagi Indonesia setelah 1998 lalu. Untuk 2020, Core Indonesia pun meramal pertumbuhan ekonomi berada di kisaran minus tiga persen hingga minus 1,5 persen. Hal ini tergantung pada perkembangan kasus covid-19.

    Ekonom dari Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi menuturkan perekonomian Indonesia telah mengalami resesi selama pandemi covid-19. Namun, penurunan pertumbuhan ekonomi riil selama dua kuartal tidak separah negara maju seperti Amerika Serikat, Singapura, dan Australia.

    "Resesi di negara lain belum tentu kita juga resesi," kata Fithra.

    Menurut dia, setidaknya ada beberapa faktor yang membuat ekonomi Indonesia tidak mengalami resesi parah. Salah satunya, ekonomi Indonesia tidak bergantung pada perdagangan internasional.

    Fithra menyebutkan mayoritas penggerak perekonomian nasional Indonesia yaitu belanja domestik. Berdasarkan pengamatannya, belanja domestik Indonesia mulai kembali bergerak setelah mengalami penurunan saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Maret-April 2020.

    Momentum ini juga ditandai dengan naiknya purchasing managers index (PMI) Indonesia menjadi 39 poin pada Juni 2029. Sebelumnya, PMI Indonesia sempat menyentuh 28,6 poin.

    (AHL)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id