Indef: 100 Hari Jokowi Tanpa Akselerasi Ekonomi

    Ilham wibowo - 06 Februari 2020 13:22 WIB
    Indef: 100 Hari Jokowi Tanpa Akselerasi Ekonomi
    Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto (tengah) - - Foto: Medcom.id/ Ilham Wibowo
    Jakarta: Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyebut 100 hari pemerintahan Presiden Joko Widodo di periode kedua belum mampu meningkatkan optimisme perekonomian. Capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2019 menjadi bukti tak ada akselerasi.

    Ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2019 tumbuh melambat sebesar 4,97 persen yoy dibandingkan dengan triwulan-triwulan sebelumnya. Secara keseluruhan perekonomian Indonesia 2019 hanya tumbuh 5,02 persen yoy. Pertumbuhan ekonomi 2019 ini lebih rendah dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 sebesar 5,3 persen yoy.

    "Gebrakan tim ekonomi di kabinet yang sudah lebih dari seratus hari bekerja belum nampak hasilnya, justru laju pertumbuhan ekonomi semakin melambat," kata Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto dalam sebuah diskusi di Rantang Ibu ITS Office Tower, Pejaten, Jakarta Selatan, Kamis, 6 Februari 2020.

    Eko menjelaskan perlu upaya lebih serius dari tim ekonomi kabinet Jokowi jilid II untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi sesuai target dan ekspektasi masyarakat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia periode kuartal IV-2019 menjadi yang terendah sejak periode yang sama pada 2016 sebesar 4,94 persen.

    Padahal, lanjut dia, secara siklus kuartal IV adalah periode yang sering memberi harapan bagi akselerasi perekonomian. Hal tersebut karena adanya perayaan hari besar keagamaan yaitu Natal dan libur akhir tahun yang bisa dorong konsumsi domestik.

    "Setiap kuartal IV pertumbuhan ekonomi kita bisa di atas lima persen cuma kali ini sudah di bawah lima persen," ungkapnya.

    Dia memaparkan pada kuartal IV-2017, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,19 persen dan kuartal IV-2018 sebesar 5,18 persen. Bahkan dalam 20 tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi di setiap kuartal IV tumbuh di atas lima persen.

    "Dan kalau saya sempat hitung 20 tahun terakhir hanya lima kali kuartal IV kita tumbuh di bawah lima persen, yakni 2001, 2002, 2003 dan dua kali di periode Pak Jokowi yakni 2016 dan 2019," tuturnya.

    Turunnya pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2019 di bawah lima persen tersebut menggambarkan semakin beratnya persoalan ekonomi. Optimisme pebisnis bahkan meredup ditandai turunnya indeks tendensi bisnis di Desember 2019 di posisi 104,82 setelah di Desember 105,33 dan Juni 108,81.

    "Hadirnya kabinet baru yang hingga akhir 2019, berarti telah bekerja dua bulan lebih ternyata belum mampu membuat berbagai gebrakan yang dapat menyulut optimisme perekonomian," ucapnya.

    Sementara itu, Center of Macroeconomics and Finance-Indef Abdul Manap Pulungan mengatakan pertumbuhan konsumsi rumah tangga kuartal IV-2019 juga mestinya menjadi pendorong perekonomian selama 2019. Pelambatan yang terjadi disebabkan konsumsi masyarakat yang menurun.

    "Idealnya konsumsi belanja sosial berguna untuk stimulus ekonomi pada saat pertumbuhan konsumsi tidak baik," ujarnya.



    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id