Kinerja Ekspor RI di November Merosot 6,17%

    Husen Miftahudin - 16 Desember 2019 14:14 WIB
    Kinerja Ekspor RI di November Merosot 6,17%
    Kepala BPS Suhariyanto. FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin.
    Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perkembangan ekspor Indonesia pada November 2019 mengalami penurunan sebesar 6,17 persen ketimbang bulan sebelumnya. Nilai ekspor pada bulan kesebelas tahun ini mencapai USD14,01 miliar.

    Kepala BPS Suhariyanto mengatakan ekspor migas mengalami kenaikan 20,66 persen (mtm). Komoditas yang menyokong kenaikan ekspor migas di antaranya, minyak mentah yang naik 12,68 persen dan ekspor gas yang tumbuh 28,56 persen.

    "Sebaliknya, total ekspor nonmigas kita dari Oktober ke November itu mengalami penurunan 7,92 persen. Penurunan ekspor nonmigas terjadi pada beberapa komoditas seperti kerak dan abu logam, besi dan baja, serta bahan bakar mineral," ujar Suhariyanto dalam konferensi pers di kantor pusat pusat BPS, Jalan Dr Sutomo, Jakarta Pusat, Senin, 16 Desember 2019.


    Bila dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya, jelas Suhariyanto, kinerja ekspor November 2019 juga melorot 5,67 persen (yoy). Menurutnya, pergerakan perkembangan ekspor November 2019 mirip dengan periode sama tahun lalu.

    "Di sana ada penurunan ekspor dibandingkan bulan sebelumnya. Karena itu dengan nilai ekspor USD14,01 miliar, ada penurunan baik month to month maupun year on year," ungkap dia.

    Berdasarkan sektornya, ekspor pertanian, industri pengolahan, serta pertambangan dan lainnya mengalami pertumbuhan negatif. Sektor pertanian misalnya, ekspornya turun 1,55 persen (mtm). Sementara bila dibandingkan dengan periode sama tahun lalu, ekspor pertanian tumbuh 4,42 persen.

    "Ekspor hasil pertanian yang menurun dibandingkan bulan sebelumnya karena adanya penurunan ekspor untuk tanaman obat, aromatik, rempah-rempah, sayuran, kopi, mutiara, dan hasil budidaya. Sementara dibandingkan dengan tahun lalu, kenaikannya karena sarang burung, buah-buahan, kopi, rumput laut, dan ganggang lainnya," beber Suhariyanto.

    Untuk industri pengolahan, ekspornya anjlok 6,78 persen (mtm) dan turun 1,66 (yoy). Penurunan secara mtm karena melorotnya ekspor besi baja, logam mulia, kendaraan motor beroda empat dan lebih, serta bubur kertas atau pulp.

    Sedangkan untuk sektor pertambangan, ekspornya turun drastis sebanyak 14,45 persen (mtm) dan melorot 19,09 persen (yoy). Ekspor pertambangan yang turun pada mtm antara lain adalah biji tembaga, biji logam lainnya, batu bara, serta briket.

    Secara kumulatif, ekspor Indonesia sepanjang Januari-November mencapai USD153,11 miliar. Angka ini turun 7,61 persen bila dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang mencapai USD165,72 miliar.

    Adapun 10 besar pangsa ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-November yakni ke Tiongkok dengan nilai mencapai USD23,54 miliar, Amerika Serikat USD16,01 miliar, Jepang USD12,59 miliar, India USD10,52 miliar, Singapura USD8,43 miliar, Malaysia USD6,97 miliar, Korea Selatan USD5,55 miliar, Thailand USD5,13 miliar, Taiwan USD3,50 miliar, dan Belanda USD2,77 miliar.

    "Pangsa ekspor nonmigas kita tidak berubah, pertama ekspor kita tertuju ke Tiongkok dengan sumbangannya 16,62 persen selama Januari sampai November 2019. Ekspor ke Tiongkok yang paling utama adalah bahan bakar mineral, besi baja, kemudian lemak dan minyak hewan nabati," tutup Suhariyanto.

    (DEV)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id