RI Kembangkan Kerangka Keuangan Berkelanjutan untuk Hadapi Perubahan Iklim

    Eko Nordiansyah - 21 Oktober 2021 11:15 WIB
    RI Kembangkan Kerangka Keuangan Berkelanjutan untuk Hadapi Perubahan Iklim
    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati - - Foto: MI/ Mohamad Irfan



    Jakarta: Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan, Indonesia mengembangkan kerangka keuangan berkelanjutan untuk menghadapi tantangan perubahan iklim. Di antaranya melalui kebijakan fiskal, penerbitan instrumen pembiayaan hijau, menarik keterlibatan peran sektor privat, dan menjalin kerja sama dengan otoritas sektor keuangan.

    Indonesia memiliki komitmen sesuai dengan Perjanjian Paris untuk mengurangi emisi CO2 sebesar 29 persen dengan usaha sendiri dan sebesar 41 persen dengan dukungan internasional pada 2030. Komitmen tersebut akan menelan biaya sebesar USD365 miliar dengan sumber daya sendiri serta USD479 miliar dengan dukungan internasional.

     



    "Kami mengembangkan penandaan anggaran yang didedikasikan untuk iklim sebesar 4,1 persen dari pengeluaran kami terkait dengan perubahan iklim, dan ini memenuhi 34 persen dari pendanaan," katanya dalam The Finance on Common Summit - High-Level Session, Kamis, 21 Oktober 2021.

    Ia menambahkan, Indonesia juga menggunakan instrumen kebijakan di sisi fiskal seperti tax allowance, tax holiday dan skema insentif lainnya untuk memberikan dukungan yang lebih banyak pada proyek-proyek perubahan iklim termasuk energi terbarukan. Selain itu, pemerintah juga menerbitkan green bond (obligasi hijau).

    "Kami juga dalam hal ini mengembangkan green bond sebagai instrumen pembiayaan baik yang diterbitkan secara global maupun domestik. Obligasi hijau global kami sejak 2018 hingga 2020 telah diterbitkan dengan jumlah total USD3,5 miliar, dan obligasi hijau domestik ritel kami sebesar USD490 juta," ungkapnya.

    Pembiayaan obligasi hijau

    1. energi terbarukan
    2. efisiensi energi
    3. ketahanan iklim untuk wilayah rentan
    4. transportasi yang berkelanjutan
    5. pengelolaan sampah

    Dengan obligasi hijau ini, kata Srimulyani, Indonesia mampu mengurangi 10,3 juta ton emisi gas rumah kaca setara CO2.

    "Kami juga dalam hal ini menerbitkan obligasi SDG, ini baru saja diterbitkan senilai 500 juta euro dengan bunga 1,35 persen yang sangat kompetitif. Obligasi SDG adalah untuk peningkatan layanan sosial dan lingkungan," tambah dia.

    Untuk itu, ia menekankan perlunya partisipasi sektor privat dalam mengembangkan kerangka keuangan berkelanjutan. Pemerintah kemudian menciptakan platform untuk bauran pembiayaan yang dapat menghimpun dana dari filantropi baik publik dan swasta serta dana dari lembaga multilateral untuk membiayai proyek keuangan berkelanjutan.

    "Kami juga bekerja sama dengan regulator atau otoritas sektor keuangan agar kami dapat mengintegrasikan keuangan berkelanjutan dan ESG, termasuk isu iklim yang diangkat dalam program kerja industri keuangan. Kami juga membuat instrumen keuangan dan mengembangkan instrumen keuangan di pasar modal termasuk obligasi berkelanjutan, green index, perdagangan karbon," pungkasnya.


    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id