BI-Kemenkeu 'Bagi Beban' Pendanaan APBN

    Husen Miftahudin - 03 Juni 2020 15:22 WIB
    BI-Kemenkeu 'Bagi Beban' Pendanaan APBN
    Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kiri), Menteri Keuangan Sri Mulyani (kanan) - - Foto: Antara/ Sigid Kurniawan
    Jakarta: Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tengah memfinalisasi kesepakatan bersama terkait pemenuhan kebutuhan pendanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kesepakatan tersebut memperkuat kerja sama dalam rangka 'burden sharing' atau bagi beban pendanaan APBN.

    Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan beban defisit APBN pemerintah semakin melebar seiring besarnya biaya penanganan pandemi virus korona (covid-19) dan pemulihan ekonomi pascapandemi. Defisit tersebut sebagian besar akan didanai dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN).

    "Kami bersama Bu Menkeu (Sri Mulyani) bagaimana Bank Indonesia bisa 'burden sharing' untuk menurunkan beban dari SBN ini. Pada waktunya Bu Menkeu kalau kita sudah lakukan tentu saja kita akan komunikasikan dalam bentuk kesepakatan bersama yang sedang kita finalkan di hari-hari terakhir ini," ujar Perry dalam konferensi pers usai rapat terbatas bersama Presiden Joko Widodo di Jakarta, Rabu, 3 Juni 2020.

    Menurut Perry penguatan kerja sama ini dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap penerbitan surat utang pemerintah. Sehingga diharapkan nantinya beban defisit APBN dan pemulihan ekonomi nasional akan semakin banyak disokong oleh pasar.

    "Dengan (kerja sama untuk pendanaan) APBN ini tentu saja bisa segera diimplementasikan agar bisa memberi stimulus ekonomi, dan juga bisa mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut," tutur dia.

    Di sisi lain, sebut Perry, bank sentral siap menjadi lender of last resort di pasar perdana dalam hal pasar tak mampu menyerap SBN. Ini dimaksudkan agar pendanaan untuk APBN tetap bisa berjalan.

    Berdasarkan amanat Undang-Undang (UU) Nomor 2 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Covid-19, Bank Indonesia bisa ikut membeli SBN di pasar perdana. Baik sebagai non competitive bidder, greenshoe option, maupun private placement.

    Sejak lelang 21 April 2020, BI sudah membeli SBN di pasar perdana sekitar Rp26 triliun. Perry mengklaim angka serapan BI pada setiap lelang SBN di pasar perdana terus mengalami penurunan. Hal ini menandakan bahwa kapasitas penyerapan SBN oleh pasar semakin besar.

    "Kalau kita lihat jumlah pembelian SBN yang dibeli oleh Bank Indonesia dari pasar perdana semakin lama semakin kecil, kapasitas absorbsi pasar itu semakin besar, dan yield (imbal hasil) SBN itu juga turun dari 8,08 persen menjadi 7,2 persen. Ini menandakan confidence investor semakin besar dan semakin juga banyak investor asing yang membeli SBN di lelang perdana," tutur Perry.

    Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengakui defisit APBN 2020 akan kembali melebar, dari perkiraan Rp852,9 triliun atau 5,07 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi Rp1.039,2 triliun atau 6,34 persen terhadap PDB.

    Melebarnya defisit karena penerimaan negara diprediksi lebih rendah menjadi Rp1.699,1 triliun dari yang sebelumnya Rp1.760,9 triliun. Sementara itu, belanja negara mengalami peningkatan dari Rp2.613,8 triliun menjadi Rp2.738,4 triliun.



    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id