DBS: Kuartal II akan Jadi Kunci Pemulihan Ekonomi Indonesia

    Arif Wicaksono - 10 Mei 2021 20:07 WIB
    DBS: Kuartal II akan Jadi Kunci Pemulihan Ekonomi Indonesia
    Ekonomi Indonesia. Foto : MI.



    Jakarta: Sesuai dengan perkiraan Ekonom DBS, ekonomi Indonesia mengalami kontraksi minus 0,7 persen pada kuartal I-2021. Lebih baik dari minus  2,2 persen pada kuartal keempat 2020.

    Kontraksi itu cukup besar yakni minus 0,96 persen jika dibanding kuartal sebelumnya minus 0,4 persen pada kuartal keempat 2020. Peningkatan jumlah kasus Covid-19 pada awal 2021 mengharuskan perpanjangan pembatasan  setempat sehingga memperlambat laju perekonomian.

     



    Rincian tersebut menunjukkan bahwa ekspor dan peningkatan pasokan (inventory) membantu pencapaian PDB di kuartal pertama 2021, sementara segmen lain menyusut lebih kecil. Konsumsi turun 1,8 persen dibanding kuartal pertama 2020, setidaknya lebih baik jika dibandingkan dengan minus 2,6 persen (rata-rata) pada dua kuartal sebelumnya.

    Konsumsi rumah tangga dan swasta pun turun lebih besar di angka minus 2,2 persen, terbukti dengan melemahnya kepercayaan konsumen, penjualan eceran, dan kelambatan  pembukaan kembali bidang pariwisata. Belanja pemerintah naik tiga persen vs 1,8 persen pada kuartal keempat 2020. Hal ini menunjukkan bahwa percepatan pencairan dana pemulihan ekonomi akan menopang pertumbuhan

    Perkiraan resmi berubah dalam beberapa minggu terakhir dengan Bank Indonesia memperkirakan  pertumbuhan 2021 sebesar 4,1-5,1 persen dan Kementerian Keuangan sebesar 4,5-5,3 persen  (DBSf: empat persen).

    "Efek dasar akan menonjol pada kuartal kedua dan ketiga, dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mematok pertumbuhan PDB kuartal kedua di angka 6,9-7,8 persen," ujar DBS Group Research dalam keterangan resminya, Senin, 10 Mei 2021.

    DBS mengatakan bahwa selain vaksinasi sebagai katalis utama, perdagangan dan dukungan fiskal, manajemen pandemi akan tetap berperan penting dalam memuluskan jalan untuk kebangkitan ekonomi.

    Stabilisasi nilai dolar Australia dan dolar AS memberikan kelegaan pada pasar dalam negeri. Imbal hasil  obligasi rupiah menguat dari tingkat tertinggi pada Maret, sementara nilai rupiah mengurangi kerugian,  dengan depresiasi sebesar 2,7 persen sejak awal tahun.

    "Unsur penyeimbang, seperti kepemilikan asing lebih kecil di ibligasi pemerintah, defisit transaksi berjalan yang dapat dikelola, operasi mata uang asing reguler oleh pihak berwenang untuk menahan gejolak, dan dorongan investasi lebih luas untuk menarik arus dana  masuk, kemungkinan mendukung rupiah pada tahun ini," jelas DBS.


    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id