Tren Penurunan Kemiskinan Harus Terhenti Imbas Pandemi Covid-19

    Eko Nordiansyah - 16 Februari 2021 09:47 WIB
    Tren Penurunan Kemiskinan Harus Terhenti Imbas Pandemi Covid-19
    Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Febrio Kacaribu. FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin



    Jakarta: Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan menilai hadirnya pandemi covid-19 pada 2020 membawa pengaruh signifikan terhadap kinerja ekonomi yang berdampak pada kemiskinan. Akibatnya, tren penurunan angka kemiskinan sejak beberapa tahun terakhir harus terhenti.

    Kepala BKF Kemenkeu Febrio Kacaribu mengatakan tren penurunan kemiskinan yang telah terjadi hingga akhir 2019 harus terhenti akibat pandemi. Pada periode September 2020, tingkat kemiskinan menjadi 10,19 persen atau meningkat 0,97 persem dibandingkan September 2019 yang sebesar 9,22 persen.




    "Dampak pandemi ini mulai dirasakan pada kuartal I-2020 dimana persentase penduduk miskin naik menjadi 9,78 persen, atau naik 0,37 persen dari Maret 2019," kata dia, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Selasa, 16 Februari 2021.

    Secara jumlah orang, penduduk miskin pada September 2020 sebesar 27,55 juta orang, atau meningkat 2,76 juta orang dibandingkan tahun lalu. Secara spasial, persentase penduduk miskin perdesaan per September 2020 naik menjadi 13,20 persen dari 12,6 persen pada September 2019.

    "Persentase penduduk miskin perkotaan mengalami kenaikan menjadi 7,88 persen dibandingkan September 2019 yang hanya sebesar 6,56 persen. Hal ini sebagai akibat terjadinya penurunan aktivitas ekonomi di seluruh wilayah, terutama di perkotaan," ungkapnya.

    Sementara itu, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur oleh Rasio Gini adalah sebesar 0,385 per September 2020. Angka ini meningkat 0,005 poin dibandingkan dengan Rasio Gini September 2019 yang sebesar 0,380.

    "Namun dapat digarisbawahi bahwa porsi pengeluaran penduduk kelompok 40 persen terbawah adalah sebesar 17,93 persen. Berdasarkan ukuran ketimpangan Bank Dunia, porsi tersebut termasuk rendah karena berada di atas 17 persen," jelas Febrio.

    Ia menjelaskan, Bank Dunia membagi tingkat ketimpangan menjadi tiga kategori yaitu ketimpangan 'tinggi' jika persentase pengeluaran kelompok 40 persen terbawah porsinya di bawah 12 persen, 'sedang' jika antara 12 sampai 17 persen, dan 'rendah' jika di atas 17 persen.

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id