Wajar Jika Penerimaan Pajak Turun di Masa Pandemi

    M Ilham Ramadhan - 12 Oktober 2020 07:25 WIB
    Wajar Jika Penerimaan Pajak Turun di Masa Pandemi
    Staf Khusus Menteri Keuangan Yustinus Prastowo. Foto: dok MI/Susanto.
    Jakarta: Menurunnya penerimaan negara di masa pandemi covid-19 merupakan hal yang tidak dapat dihindari.

    Staf Khusus Menteri Keuangan Yustinus Prastowo menyebut hal itu terjadi karena hampir semua sektor perekonomian mengalami pelemahan dan menyebabkan penerimaan perpajakan tidak optimal.

    "Tidak bisa dimungkiri kondisi pandemi ini tekanannya luar biasa. Penerimaan pajak amat tergantung pada kinerja perekonomian. Jika perekonomian turun sedemikian dalam, begitu pula penerimaan pajak," ujarnya kepada Media Indonesia, Minggu, 11 Oktober 2020.

    Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan penerimaan perpajakan pada 2020 diprediksi bakal mengalami penurunan hingga 15 persen menjadi Rp1.193,4 triliun dari yang ditargetkan di postur APBN versi Perpres 72/2020 sebesar Rp1.404,5 triliun.

    "Pendapatan kami turun sangat signifikan, untuk Indonesia kami perkirakan awalnya hanya turun 10 persen. Mungkin, sekarang kita akan mendekati penurunan pendapatan 15 persen dari perpajakan," kata Sri Mulyani saat menjadi panelis dalam 7th OECD Forum on Green Finance and Investment, Jumat, 9 Oktober 2020.

    Kendati demikian, Yustinus mengatakan secara bruto penerimaan perpajakan saat ini mengalami tren perbaikan jika dibandingkan dengan beberapa bulan sebelumnya. Hanya, karena pemerintah memberikan stimulus berupa percepatan restitusi pajak, penerimaan perpajakan secara neto menjadi terkoreksi.

    "Ini juga sebenarnya tidak apa karena restitusi toh membantu cash flow wajib pajak sebagai bagian dari stimulus fiskal pemerintah," jelas dia.

    Ia memastikan Direktorat Jenderal Pajak akan terus meningkatkan sinergi dan koordinasi guna memaksimalkan penerimaan pajak di tengah tekanan dampak pandemi. Itu merupakan komitmen yang dipegang otoritas pajak sebagai bagian dari pengelola keuangan negara.

    Ditjen Pajak disebut akan memperkuat pengawasan pajak, khususnya kepada sektor yang tumbuh positif dan pesat di tengah pandemi ini. Namun, di sisi lain, pemerintah juga mengupayakan stimulus serta insentif dapat dimanfaatkan dengan baik agar dunia usaha terselamatkan dari dampak pandemi.

    "Tentu pemanfaatan data perpajakan terus dilakukan meski selektif dan berbasis akurasi," pungkasnya.

    (AHL)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id