OJK: Kinerja Intermediasi Masih Solid

    Ilham wibowo - 24 April 2019 06:44 WIB
    OJK: Kinerja Intermediasi Masih Solid
    Ketua DK-OJK Wimboh Santoso (Foto: OJK)
    Jakarta: Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso memastikan stabilitas sektor jasa keuangan masih terjaga dengan baik. Catatan kinerja ini didukung oleh tingkat permodalan dan likuiditas lembaga jasa keuangan yang memadai.

    "Kinerja intermediasi keuangan masih solid dengan pertumbuhan kredit perbankan masih pada level dua digit dan didukung dengan profil risiko yang terjaga pada level yang rendah," kata Wimboh, dalam pemaparan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di kantor Kemenkeu, Jakarta, Selasa, 23 April 2019.

    Per Februari 2019, kredit perbankan tumbuh 12,13 persen yoy dengan rasio Non Performing Loan (NPL) gross 2,59 persen dibandingkan Desember 2018 sebesar 2,37 persen. Pertumbuhan kredit perbankan didorong oleh kredit produktif yaitu kredit investasi yang tumbuh 13,96 persen dan kredit modal kerja yang tumbuh mencapai 12,75 persen.

    "Penyaluran kredit perbankan ini didorong oleh empat sektor yang pertumbuhan kreditnya lebih tinggi dari rata-rata industri yaitu sektor pertambangan; listrik gas dan air; konstruksi dan transportasi," paparnya.

    Sedangkan pembiayaan dari lembaga pembiayaan per Februari 2019 masih tumbuh positif mencapai 4,61 persen yoy (Desember 2018: 5,17 persen yoy) dengan Non Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan per Februari 2019 yang relatif terjaga sebesar 2,70 persen.

    Pada triwulan I-2019, investor non residen mencatatkan net buy di pasar saham dan pasar SBN, masing-masing sebesar Rp12,13 triliun dan Rp73,87 triliun seiring dengan meredanya tekanan dari pasar keuangan global. Sementara itu, penghimpunan dana di pasar modal mencapai Rp28,34 triliun.

    Kinerja intermediasi yang positif tersebut didukung oleh tingkat permodalan lembaga jasa keuangan yang tinggi dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan per Februari 2019 berada pada level 23,86 persen. Sedangkan Risk Based Capital (RBC) untuk asuransi umum dan asuransi jiwa masing-masing sebesar 316 persen dan 442 persen.

    "Indikator likuiditas perbankan per Februari juga masih pada tingkat yang manageable dengan rasio AL/DPK tercatat mencapai 22,33 persen, AL/NCD sebesar 107,25 persen dan LCR tercatat sebesar 218,45 persen atau masih di atas threshold-nya," ucapnya.

    Dalam menjaga resiliensi lembaga keuangan nasional dan menghadapi downside risk perlambatan ekonomi global, lanjut Wimboh, OJK terus meningkatkan kapasitas pelaku di industri keuangan baik dari sisi permodalan maupun manajemen risikonya.

    OJK juga akan terus meningkatkan peran sektor jasa keuangan untuk menyediakan pembiayaan bagi pembangunan khususnya melalui pengembangan pasar modal baik dari sisi supply maupun demand.

    "OJK juga akan terus membuka akses keuangan seluas luasnya bagi UMKM dan masyarakat di daerah pedesaan dan daerah terpencil di antaranya melalui perluasan pemanfaatan teknologi keuangan, penyaluran KUR dengan skema kluster dan pendirian Bank Wakaf Mikro," pungkasnya.
     



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id