Tutup Penanaman Modal Minol, PHRI Apresiasi Keputusan Jokowi

    Rendy Renuki H - 09 Juni 2021 21:17 WIB
    Tutup Penanaman Modal Minol, PHRI Apresiasi Keputusan Jokowi
    Ilustrasi minuman beralkohol (Dok. MI)



    Jakarta: Pelaku usaha yang tergabung dalam Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI)  mengapresiasi keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menutup pintu penanaman modal untuk minuman beralkohol (minol) di Indonesia.

    Ketua PHRI Provinsi Sulawesi Utara, Nicho Lieke, menilai keputusan Presiden Jokowi sejalan dengan amanat konstitusi. Apalagi telah tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 49 Tahun 2021 soal perubahan atas Perpres Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal.

     



    Di mana tugas negara dan pemerintah adalah melindungi rakyatnya, baik menyangkut agama, keyakinan, kesehatan, ekonomi, dan moral bangsanya.
     
    "Keputusan yang baik. Pemerintah secara jelas menyatakan bahwa tidak akan menerbitkan Izin Usaha Industri (IUI) yang baru. Jadi, perusahaan atau perizinan IUI yang sudah ada tetap  berjalan seperti biasa," kata Nicho lewat keterangan tertulis, Rabu 9 Juni 2021.

    "Kebijakan ini juga demi penerimaan negara dan nasib ribuan tenaga kerja  di industri ini," lanjutnya mewakili Ketua Umum PHRI Hariyadi Sukamdani.

    Nicho mengatakan, isi Perpres Nomor 49 Tahun 2021 menjelaskan beberapa ketentuan Perpres Nomor 10 Tahun 2021 diubah. Salah satunya tentang penanaman modal untuk bidang minuman mengandung alkohol.

    "Kami mendukung kebijakan Presiden Jokowi untuk melindungi pengusaha nasional. Pelaku usaha ingin mendapatkan kepastian," kata Nicho.

    Di sisi lain, dia juga berharap pemerintah tidak hanya melihat minol sebagai aset penyumbang devisa negara, tetapi  keberadaannya hendaknya dimaknai sebagai salah satu daya tarik bagi industri pariwisata di Tanah Air.

    "Wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia, rata-rata ingin mencoba minuman kearifan lokal yang mengandung alkohol. Contohnya, wisatawan yang ke Bali rata-rata ingin mencoba arak Bali. Demikian juga kalau ke Manado, banyak wisatawan asing yang mencari cap tikus," jelas Nicho.

    Dia menyebutkan, negara-negara yang tidak mengizinkan peredaran minol jarang dikunjungi wisatawan asing. Contohnya, Brunei Darussalam dan Bahrain.

    "Brunei Darussalam membangun hotel bintang enam yang dilapisi emas, tapi turis enggan berkunjung ke sana. Kenapa? Karena tidak daya tarik. Sebab, kesannya negara itu tertutup," tuturnya.

    Nicho juga berharap suatu saat adanya perusahaan kearifan lokal yang memproduksi minol  melakukan intial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia.

    "Arahnya harus seperti itu, supaya industri minol maju dan masyarakat dapat memiliki sahamnya," tutupnya.

    (ACF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id