Perlambatan Global Bikin Target Ekonomi RI Tak Tercapai

    Eko Nordiansyah - 07 Januari 2020 14:18 WIB
    Perlambatan Global Bikin Target Ekonomi RI Tak Tercapai
    Menteri Keuangan Sri Mulyani. (FOTO: Medcom.id/Suci Sedya Utami.
    Jakarta: Kementerian Keuangan menyebutkan pertumbuhan ekonomi di 2019 diestimasi hanya sebesar 5,05 persen. Padahal dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pertumbuhan ekonomi ditargetkan sebesar 5,3 persen.

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan perkembangan ekonomi global sepanjang tahun lalu memang mengalami gejolak. Bukan hanya ketegangan ekonomi, tetapi perkembangan geopolitik juga menyebabkan ketidakpastian.

    "Perkembangan ekonomi 2019 lingkungan ekonomi dari sisi global dan geopolitik masih sangat dinamis sepanjang 2019," kata dia, dalam konferensi pers di Kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Selasa, 7 Januari 2020.

    Meski begitu, pemerintah berupaya menjaga agar perlambatan ekonomi global tidak berdampak signifikan menekan ekonomi nasional. Misalnya saja untuk inflasi pemerintah berhasil menjaga agar daya beli masyakarat tetap terjaga.

    Inflasi berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) sepanjang 2019 tercatat sebesar 2,72 persen atau lebih rendah dari target 3,5 persen. Bahkan selama 20 tahun terakhir ini, capaian inflasi tahun lalu merupakan yang terendah.

    "Inflasi kita masih relatif sangat baik. Bahkan ini inflasi terendah sampai 20 tahun terakhir. Ini juga mendukung daya beli masyarakat yang terjaga di atas lima persen," jelas dia.

    Sementara itu, tingkat bunga SPN tiga bulan tercatat sebesar 5,6 persen atau di atas target APBN 5,3 persen. Nilai tukar rupiah mengalami penguatan dengan berada di Rp14.146 per USD jauh di bawah target Rp15.000 per USD.

    "Untuk minyak unfortunately baik lifting dan harga mengalami capaian yang lebih rendah dari yang diasumsikan. Lifting kita dari sisi migas pada Januari sampai dengan akhir tahun relatif levelnya lebih rendah dari 2019," tambahnya.

    Harga minyak mentah Indonesia (ICP) mencapai USD62 per barel, lebih rendah dari asumsi USD70 per barel. Untuk lifting minyak tercatat 741 ribu barel per hari dari target 775 ribu barel per hari, dan lifting gas hanya 1,05 juta barel setara minyak per hari dari target 1,25 juta barel setara minyak per hari.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id