DJP Ungkap Alasan Penerimaan Pajak Baru 65% dari Target

    Eko Nordiansyah - 25 November 2019 15:58 WIB
    DJP Ungkap Alasan Penerimaan Pajak Baru 65% dari Target
    Perpajakan. Foto : MI/ARYA MANGGALA.
    Jakarta: Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan mengungkapkan alasan penerimaan pajak baru sebesar 64,56 persen dari target Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) 2019. Padahal tahun ini hanya menyisakan dua bulan lagi.

    Sampai Oktober 2019, penerimaan pajak baru Rp1.018,47 triliun dari target Rp1.577,56 triliun. Penerimaan pajak hanya tumbuh 0,23 persen dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang tumbuh 16,21 persen.

    "Relatively masih sangat berat. Ada tiga faktor utama yang menyebabkan kita masih berada pada pertumbuhan yang relatif kecil ini," kata Direktur Potensi, Kepatuhan, dan Penerimaan Pajak Direktorat Jenderal Pajak Kemenkeu Yon Arsal dalam diskusi di Kawasan Senayan, Jakarta, Senin, 25 November 2019.

    Yon merinci faktor pertama adalah restitusi yang meningkat sangat signifikan sehingga penerimaan pajaknya melemah. Menurutnya, kondisi ini sebenarnya sudah bisa diprediksi sejak awal karena fasilitas restitusi yang dipercepat ini telah dijanjikan oleh pemerintah.

    "Kedua, kita berbicara faktor ekonomi yang memang sangat signifikan penurunannya. Di rapat press conference terakhir hari ini aktivitas ekspor impor yang menurun secara signifikan. Padahal penerimaan Pajak Pertambahan Nilai  (PPN) ekspor impor kita itu berkontribusi 18 persen dari penerimaan," ungkapnya.

    Dirinya menambahkan PPN ekspor impor ditargetkan bisa tumbuh sebesar 23 persen dalam APBN 2019. Sayangnya karena faktor ekonomi tadi, PPN ekspor impor justru pertumbuhannya minus tujuh persen jika dibandingkan dengen periode yang sama pada tahun lalu. Padahal pada bulan lalu pertumbuhannya hanya minus dua persen.

    Selain itu, faktor yang menyebabkan penerimaan pajak belum maksimal adalah harga komoditas yang melemah. Meskipun ada perbaikan harga sawit beberapa waktu lalu, namun dampaknya terhadap penerimaan pajak baru akan terasa pada Desember atau bahkan tahun depan.

    "Di samping adanya pelemahan ada peluang positif di bulan November dan Desember. Peluang pertama, dari jenis pajak, bahwa (pertumbuhan) PPN 21 masih stabil di atas 10 persen. Kalau kita trek pertumbuhannya sampai Juli, itu masih di kisaran 18 persen," pungkas dia.




    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id