Menko Airlangga: Surplus Neraca Perdagangan Positif bagi Ekonomi

    Eko Nordiansyah - 21 Agustus 2020 09:53 WIB
    Menko Airlangga: Surplus Neraca Perdagangan Positif bagi Ekonomi
    Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. FOTO: Kementerian Perindustrian
    Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai surplus neraca perdagangan yang terjadi pada Juli 2020 akan memberi dampak positif bagi perekonomian nasional. Apalagi, kondisi itu dalam upaya pemerintah memulihkan ekonomi dari dampak pandemi covid-19.

    Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat neraca perdagangan mengalami surplus sebesar USD3,26 miliar pada Juli 2020 atau tiga bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Secara kumulatif sepanjang semester I 2020, surplus neraca perdagangan adalah sebesar USD8,74 miliar.

    "Ini sesuatu yang sangat positif di tengah situasi pandemi sekarang. Hal lain yang lebih menggembirakan, surplus perdagangan pada Juli 2020 merupakan yang tertinggi sejak sembilan tahun lalu atau tepatnya Agustus 2011,” kata dia, dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 21 Agustus 2020.

    Pada Juli 2020, nilai ekspor sebesar USD13,72 miliar, lebih tinggi dibandingkan nilai impor sebesar USD10,46 miliar sehingga menyebabkan surplus neraca perdagangan. Surplus pada Juli 2020 terutama dipengaruhi oleh membaiknya kinerja ekspor, khususnya ekspor non-migas, dan menurunnya permintaan impor barang konsumsi.

    Ekspor non-migas pada Juli 2020 mencapai USD13,03 miliar atau meningkat 13,86 persen (mtm) dibandingkan Juni 2020. Ini disumbangkan ekspor sektor industri yang meningkat 16,95 persen (mtm), dengan kontribusi lebih dari 82 persen dari total ekspor dengan komoditas penyumbang ekspor di antaranya logam mulia perhiasan/permata, kendaraan, besi dan baja, serta mesin dan perlengkapan elektrik.

    “Artinya komoditas utama ekspor Indonesia masih berdaya saing tinggi di tengah penurunan permintaan global sebagai dampak pandemi covid-19. Sesuatu yang sangat positif mengingat saat ini Indonesia sedang membutuhkan sektor-sektor pengungkit agar pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2020 bisa lebih baik dibandingkan kuartal II-2020,” jelas Airlangga.

    Sedangkan menurunnya impor barang konsumsi memang lebih besar daripada impor bahan baku/penolong. Total nilai impor pada Juli 2020 senilai USD10,47 miliar, dengan pangsa barang konsumsi sebesar 10,63 persen, barang modal sebesar 18,79 persen, dan bahan baku/penolong sebesar 70,58 persen dari total impor Juli 2020.

    Impor barang konsumsi mengalami penurunan permintaan sebesar minus 21,01 persen (mtm) menjadi USD1,11 miliar. Salah satunya dikarenakan keberhasilan program peningkatan konsumsi barang produksi dalam negeri, di tengah penurunan permintaan domestik akibat pandemi.

    Sementara itu, peningkatan dialami oleh impor barang modal yang tumbuh 10,82 persen (mtm). Hal itu merupakan sinyal positif yang sejalan dengan peningkatan Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur yang memperlihatkan aktivitas produksi juga mulai meningkat.

    “Penurunan impor bahan baku/penolong juga diharapkan memberikan peluang bagi industri/pelaku usaha dalam negeri untuk mampu memasoknya, sekaligus mengambil alih pangsa impor. Khususnya di masa-masa penuh tantangan saat ini,” pungkasnya. 

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id