Disebut Gagal Bayar, Laporan Moody's hanya Simulasi Stress Test - Medcom

    Disebut Gagal Bayar, Laporan Moody's hanya Simulasi Stress Test

    Media Indonesia - 07 Oktober 2019 08:02 WIB
    Disebut Gagal Bayar, Laporan Moody's hanya Simulasi <i>Stress Test</i>
    Ilustrasi. FOTO: Medcom.id.
    Jakarta: Ekonom Bank Permata Josua Pardede menuturkan laporan Moody's Investor soal potensi perusahaan Indonesia mengalami gagal bayar hanya simulasi dan tidak dapat dijadikan kesimpulan risiko gagal bayar koorporasi meningkat.

    Sebab, kata Josua, laporan Moody's tersebut hanyalah simulasi stress test (uji tekanan) yang dilakukan jika EBITDA korporasi turun 25 persen dan bagaimana dampak terhadap kemampuan bayar utang korporasi di Indonesia.

    "Sehingga laporan tersebut tidaklah menggambarkan prediksi yang artinya tidak dapat disimpulkan bahwa risiko gagal bayar kredit koporasi meningkat," kata Josua saat dihubungi, Minggu, 6 Oktober 2019.

    Meski begitu, bauran kebijakan bank sentral dan pemerintah yang dilakukan sebagai langkah pre-emptive pelambatan ekonomi domestik dapat dianggap sebagai respons dari pelambatan ekonomi global dan hangatnya tensi perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok.

    Di antaranya Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 75 bps pada 2019 ini menjadi 5,25 persen. Selain itu pelonggaran kebijakan makroprudensial juga diperkirakan akan memberikan stimulus bagi konsumsi rumah tangga dan Indonesia.

    "Dari sisi pemerintah, kebijakan yang mendorong peningkatan investasi juga terus dipercepat sedemikian sehingga dapat menjaga momentum pertumbuhan domestik," terang Josua.

    Secara keseluruhan juga tingkat resiko kredit perbankan dinilai stabil meski mengalami sedikit peningkatan dibanding akhir 2018. Penurunan kinerja sektor-sektor perekonomian, kata Josua, tidak akan mendorong peningkatan risiko kredit yang signifikan mengingat kondisi solvabilitas, rentabilitas dan likuiditas perbankan cenderung solid.

    Dari segala kebijakan moneter dan fiskal yang telah dilakukan di Indonesia, Josua berharap hal itu dapat membuahkan hasil yang positif.

    "Mengingat respons kebijakan dari sisi moneter dan fiskal juga sudah dilakukan, diharapkan dapat mempertahankan momentum pertumbuhan domestik," jelasnya.

    Lembaga pemeringkat Moody's Investor menyebutkan perusahaan Indonesia berpotensi terpapar risiko gagal bayar.

    Dalam laporannya yang berjudul Risks from Leveraged Coporates Grow as Macroeconomics Conditions Worsen itu, Moody's menyebutkan Indonesia dan India merupakan dua dari 13 negara di Asia Pasifik yang memiliki resiko gagal bayar tertinggi.

    Moody's juga mengingatkan profil utang korporasi Indonesia sangat buruk karena memiliki Interest Coverage Ratio (ICR) yang sangat kecil. Bahkan, sebanyak 40 persen utang korporasi di Indonesia memiliki skor ICR lebih kecil dari dua.

    Lembaga pemeringkat itu kemudian melakukan uji tekanan (stress test) kepada rasio ICR Indonesia dengan menurunkan pendapatan korporasi domestik sebesar 25 persen. Alhasil, hampir 20 persen korporasi bisa memiliki skor ICR di bawah satu. Artinya, kemampuan gagal bayar utang korporasi Indonesia bisa meningkat. (M. Ilham Ramadhan Avisena)



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id