Ketidakpastian Menurun, Stabilitas Sistem Keuangan Akhir 2019 Terkendali

    Desi Angriani - 22 Januari 2020 12:13 WIB
    Ketidakpastian Menurun, Stabilitas Sistem Keuangan Akhir 2019 Terkendali
    Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan stabilitas sistem keuangan Indonesia kuartal IV-2019 dalam kondisi terkendali. Foto: Medcom.id/Desi Angriani
    Jakarta: Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan stabilitas sistem keuangan Indonesia kuartal IV-2019 dalam kondisi terkendali. Hal itu ditopang oleh perbaikan perekonomian dalam negeri dan ketidakpastian global yang mulai mereda.

    Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan terjaganya pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan investasi di sektor bangunan.

    "Rapat KSSK menyimpulkan stabilitas sistem keuangan triwulan IV-2019 tetap terkendali di tengah ketidakpastian perekonomian global yang menurun serta sorotan masyarakat terhadap permasalahan pada beberapa lembaga jasa keuangan di Tanah Air," kata Ani, sapaannya, dalam jumpa pers di Gedung Dhanapala, Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu, 22 Januari 2020.

    Menkeu menuturkan ketidakpastian yang mereda di akhir 2019 juga berdampak pada menurunnya risiko di pasar keuangan global. Ini mendorong berlanjutnya aliran masuk modal asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

    "Terdapat sejumlah perkembangan positif terkait kemajuan perundingan perdagangan antara AS-Tiongkok, meskipun kelanjutan proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) dan beberapa risiko geopolitik global masih perlu menjadi perhatian," terangnya.

    Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menambahkan tingginya aliran masuk modal asing berimbas pada penguatan nilai tukar rupiah. Penguatan ini turut didorong oleh bekerjanya mekanisme pasar, dan meningkatnya kepercayaan para investor.

    Karena itu, kebijakan moneter akomodatif tetap dipertahankan. Di antaranya, menurunkan suku bunga sebanyak empat kali sebesar 100 bps serta melonggarkan pengaturan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM)/RIM Syariah dan rasio Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV).

    Termasuk tambahan keringanan rasio LTV/FTV untuk kredit/pembiayaan properti dan uang muka Kredit Kendaraan Bermotor yang berwawasan lingkungan.

    "Kebijakan sistem pembayaran dan pendalaman pasar keuangan juga terus diperkuat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Demikian juga inflasi, tetap terkendali di dalam kisaran target," jelas Perry.

    Pada sektor jasa keuangan, Ketua Dewaan Komisioner OJK Wimboh Santoso menjelaskan akan terus mengoptimalkan peran sektor jasa keuangan dalam memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi.

    Tren penurunan suku bunga turut mendukung kinerja intermediasi tumbuh positif dengan tingkat permodalan yang memadai, likuditas dan profil risiko yang terjaga.

    "OJK terus meningkatkan daya saing dan peran sektor jasa keuangan dalam mendukung perekonomian nasional melalui kebijakan konsolidasi, digitalisasi, dan harmonisasi pengaturan serta pengawasan di sektor jasa keuangan," tutur Wimboh.

    Sementara itu, LPS akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap kebijakan Tingkat Bunga Penjaminan sesuai dengan kondisi likuiditas perbankan, hasil asesmen atas kondisi makroekonomi, dan stabilitas sistem keuangan.

    LPS pada periode November 2019 telah menurunkan tingkat bunga penjaminan masing-masing pada bank umum dan BPR turun 25 bps menjadi sebesar 6,25 persen dan 8,75 persen.



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id