MAGHRIB 17:47

    Untuk Jakarta dan sekitarnya

    IMSAK 04:26
    SUBUH 04:36
    DZUHUR 11:53
    ASHAR 15:14
    ISYA 19:00

    Download Jadwal Imsakiyah

    Defisit APBN Capai Rp102 Triliun

    Ilham wibowo - 22 April 2019 21:24 WIB
    Defisit APBN Capai Rp102 Triliun
    Illustrasi. MI/Susanto.
    Jakarta: Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Maret 2019 mengalami kenaikan. Kondisi ini dipengaruhi belanja negara yang tumbuh lebih besar. 

    Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Luky Alfirman memaparkan defisit APBN selama Maret 2019 sebesar Rp102 triliun. Angka itu naik 18,8 persen dari periode yang sama di 2018 sebesar Rp85,8 triliun.
    "Realisasi defisit APBN hingga Maret 2019 mencapai Rp101,96 triliun atau sekitar 0,63 persen Produk Domestik Bruto (PDB)," kata Luky dalam pemaparan APBN Kita di kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin, 22 April 2019.

    Kenaikan defisit tersebut lantaran belanja negara yang tumbuh sebesar 7,7 persen sebesar Rp452,1 triliun. Angka itu lebih tinggi ketimbang pertumbuhan penerimaan dalam negeri yang hanya sebesar lima persen sebesar Rp350 triliun. 

    Apabila dirinci, belanja pemerintah pusat yang terealisasi mencapai Rp260,7 triliun berdasarkan serapan anggaran kelompok kementrian/lembaga (K/L) dan non-K/L. Sementara transfer ke daerah dan dana desa terealisasi mencapai Rp191,3 triliun. 

    Namun demikian, Luky menegaskan angka kenaikan defisit masih dalam batas aman dan terkendali. Capaian kinerja APBN Maret 2019 masih lebih baik dibandingkan periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya

    "Jika dibandingkan kinerja kita lima tahun terakhir, sisi defisit anggaran itu kita masih on track, 0,63 persen dari PDB itu masih berimbang dengan capaian tahun lalu," ungkapnya. 

    Adapun posisi keseimbangan primer pada Maret 2019 berada pada posisi negatif Rp31,38 triliun. Realisasi pembiayaan yang dilakukan Pemerintah hingga Maret 2019 mencapai Rp177,45 triliun, terutama bersumber dari pembiayaan utang yaitu sebesar Rp177,86 triliun atau sekitar 49,51 persen dari APBN. 

    Realisasi pembiayaan utang tersebut terdiri dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) (neto) sebesar Rp185,83 triliun dan pinjaman (neto) sebesar negatif Rp7,97 triliun. Menurut Luky, pemerintah telah menerapkan strategi frontloading penerbitan SBN dengan memanfaatkan likuiditas awal tahun dan tingginya minat investor, serta 

    "Mengantisipasi kewajiban utang jatuh tempo yang cukup besar pada bulan Maret hingga Mei 2019, telah turut mendukung tercapainya target SBN bruto yang ditetapkan pada APBN 2019 selama Triwulan I," paparnya. 




    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id