Pertumbuhan Ekonomi 2021 Diprediksi ke Batas Bawah

    Eko Nordiansyah - 25 Juli 2021 10:48 WIB
    Pertumbuhan Ekonomi 2021 Diprediksi ke Batas Bawah
    Ekonomi Indonesia. Foto : AFP.



    Jakarta: Pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun ini diprediksi akan sulit mencapai target pemerintah. Meski proyeksi ekonomi telah diturunkan menjadi 3,7 persen sampai 4,5 persen, namun hal ini tidak akan mudah dicapai dengan kondisi yang ada sekarang.

    Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal memperkirakan pertumbuhan ekonomi antara tiga hingga empat persen saja. Hanya saja dengan penerapan kebijakan PPKM Darurat, ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan mengarah ke batas bawah.

     



    "Kalau dari kami, perkiraan kalkulasi kami termasuk yang sudah direvisi kemarin menjadi 3,7 sampai 4,5 persen itu juga masih terlalu tinggi. Kami sudah prediksikan bahwa di 2021 ini hanya tiga empat persen," kata dia dalam webinar dilansir di Jakarta, Minggu, 25 Juli 2021.

    Pertumbuhan ekonomi tahun ini belum sesuai harapan karena ekonomi jangka pendek lebih diprioritaskan daripada kesehatan untuk mengatasi pandemi. Ia menilai dikotomi kebijakan ekonomi dan kesehatan dalam pemberlakukan PPKM Darurat tidak tepat.

    "Seolah sekarang ini prioritas ekonomi jangka pendek diatas ekonomi jangka panjang. Prioritas kesehatan adalah prioritas ekonomi jangka panjang, seharusnya diatas ekonomi jangka pendek," ungkapnya.

    Sementara itu, Pakar Kebijakan Publik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) Achmad Nur Hidayat menyebut, pertumbuhan ekonomi 2021 akan positif meski tidak tidak sesuai harapan pemerintah. Alasannya karena kebijakan praktik di lapangan dari PPKM Darurat sangat lemah.

    "Pertumbuhan ekonomi 2021 bisa positif di angka dua sampai tiga persen bisa tercapai karena dorongan ekspor dan harga komoditas yang membaik namun bila varian delta dan varian baru tidak terkendali lagi maka ekonomi bisa negatif 1-2 persen," ujar dia.

    Ia pun mengingatkan bahwa Indonesia harus belajar dari varian delta sebaik-baiknya karena varian lain besar kemungkinannya akan muncul ke depannya. Untuk itu, dibutuhkan institusionalisasi kelembagaan penanganan covid-19 yang lebih permanen.

    "Pelajaran dari varian delta ini adalah vaksin yang ada saat ini tidak dapat sepenuhnya dapat diandalkan. Oleh karena itu diperlukan pendekatan lain selain vaksin yang diorkestrasi oleh institusionalisasi kelembagaan penanganan covid-19 yang lebih permanen bukan seperti saat ini ada BNPB, KPCPEN, Gugus Tugas Covid yang penanggungjawabnya berubah-berubah," pungkasnya.


    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id