Penurunan PPh Badan Bikin Pemerintah Kehilangan Rp87 Triliun

    Eko Nordiansyah - 06 September 2019 07:15 WIB
    Penurunan PPh Badan Bikin Pemerintah Kehilangan Rp87 Triliun
    Dirjen Pajak Robert Pakpahan. FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin
    Jakarta: Pemerintah berencana memangkas pajak penghasilan (PPh) Badan melalui Rancangan Undang-Undang (RUU) baru mengenai ketentuan perpajakan dan fasilitas perpajakan. Penurunan PPh Badan diperkirakan bakal membuat negara kehilangan hingga Rp87 triliun.

    Direktur Jenderal Pajak Robert Pakpahan memaparkan potensi kehilangan pendapatan (potential loss) jika PPh Badan diturunkan dari 25 persen ke 22 persen adalah sebesar Rp52,8 triliun. Jika diturunkan hingga lima persen, maka kerugian negara lebih besar lagi.

    "Kalau (PPh Badan) turun dari 25 persen ke 20 persen, maka ada potential loss Rp87 triliun,"kata Robert, dalam konferensi pers di Kantor Pusat DJP, Jakarta, Kamis, 5 September 2019.

    Dirinya menambahkan penurunan PPh Badan menjadi 20 persen memang dilakukan secara bertahap. Pada 2021 PPh Badan akan diturunkan menjadi 22 persen, sementara dua tahun kemudian baru PPh Badan bisa diturunkan lagi menjadi 20 persen.

    Tak hanya itu, perusahaan juga bisa mendapat diskon PPh Badan menjadi 17 persen jika baru melantai di bursa atau melakukan Initial Public Offering atau (IPO). Langkah ini, lanjut Robert, dimaksudkan agar menarik minat investasi di dalam negeri.

    "Kebijakan (penurunan PPh Badan) ini akan dieksekusi pada 2021, dan diturunkan secara bertahap hingga 20 persen pada 2023. Pemerintah juga menurunkan PPh bagi perusahaan yang baru melantai di bursa hingga 17 persen, sama seperti tarif di Singapura," jelas dia.

    Stimulus lain yang akan diberikan adalah penghapusan pajak dividen bagi perusahaan dalam dan luar negeri dengan kepemilikan saham di bawah 25 persen. Ketentuan ini berlaku apabila dividen tersebut ditanamkan kembali dalam bentuk instrumen investasi di Indonesia.

    "Untuk dividen sekarang sebagin besar kena PPh kecuali intercorporate dividen. Latar belakangnya, supaya ekonomi kita lebih kuat, memberi insentif untuk merger lebih kuat, dan bikin anak usaha itu di-encourage," pungkasnya.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id