comscore

Triple Combo, Tantangan Pemulihan Ekonomi Dunia

Annisa ayu artanti - 23 Mei 2022 19:43 WIB
<i>Triple Combo</i>, Tantangan Pemulihan Ekonomi Dunia
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Foto : Medcom/Eko.
Jakarta: Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membeberkan pemulihan ekonomi dunia termasuk Indonesia akan dihadapkan tiga masalah besar.

Ia mengatakan tantangan tersebut bukan lagi didominasi oleh pandemi covid-19 yakni kenaikan harga karena disrupsi serta kondisi geopolitik internasional. Kondisi tersebut akan memberikan efek domino terhadap banyak hal.
"Kenaikan harga yang ekstrim ini menyebabkan nanti pengetatan dari sektor moneter yang menyebabkan suku bunga naik dan likuiditas yang ketat. Ini adalah risiko yang harus diwaspadai," katanya dalam konferensi pers APBN KiTA, Senin, 23 Mei 2022.

Selain itu, mantan direktur pelaksana Bank Dunia ini juga menyebutkan, tantangan kedua yang akan dihadapi Indonesia adalah inflasi tinggi. Lalu, ketiga adalah perlambatan pertumbuhan ekonomi.

"Ini adalah risiko yang harus menjadi pusat perhatian kita untuk tahun ini dan tahun depan," ujarnya.

Oleh karena itu, ia menekankan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus benar-benar diolah dengan sebaik-baiknya karena menjadi instrumen utama dan pertama dalam melindungi ekonomi dan masyarakat.

"Strateginya harus mulai diubah. Pertama konsolidasi APBN harus menjadi keharusan. Karena kalau tidak, dalam situasi inflasi tinggi, suku bunga tinggi, likuiditas ketat, pertumbuhan ekonomi lemah, APBN tidak boleh lemah atau harus sehat," tegasnya.

Dalam bahan paparannya, ia menjelaskan kondisi real APBN hingga April 2022. Ia mengklaim kondisinya sangat baik. Tercatat, pendapatan negara naik sebesar 45,9 persen yaitu telah mencapai Rp853,6 triliun dari postur APBN Rp1.846,1 triliun.

Adapun rincian penerimaan perpajakan sebesar Rp676,1 triliun dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp177,4 triliun.

Lalu, belanja negara hingga April tercatat sebesar Rp750,5 triliun, atau naik 3,8 persen. Dalam postur APBN belanja negara dipatok Rp2.714,2 triliun. Kemudian keseimbangan primer tercatat sebesar Rp220,9 triliun. APBN juga mencatatkan surplus Rp103,1 triliun atau 0,58 persen.

"Nah ini adalah suatu prestasi konsolidasi APBN yang sangat baik. Tentu kita akan menggunakan seluruh surplus ini nanti seperti yang kita sampaikan ke DPR kemarin untuk menjadi shock absorber dari guncangan yang terjadi sekarang ini, baik kemarin dari pandemi sekarang dari guncangan dari sisi komoditas," pungkasnya.

(SAW)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id