Risiko Global Masih Hantui Ketidakpastian Stabilitas Ekonomi RI

    Husen Miftahudin - 19 Oktober 2021 12:08 WIB
    Risiko Global Masih Hantui Ketidakpastian Stabilitas Ekonomi RI
    Ekonomi Indonesia. Foto : MI.



    Jakarta: Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menyatakan risiko global masih ada untuk sisa 2021. Kondisi ini dapat memberikan tekanan dan menimbulkan ketidakpastian pada stabilitas ekonomi.

    Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky mengungkapkan faktor-faktor tertentu yang dapat meningkatkan ketidakpastian eksternal dan membatasi potensi arus modal masuk ke depan adalah agenda normalisasi moneter yang lebih cepat dari yang diantisipasi oleh The Fed yang dapat memicu 'flight to quality', kelangkaan kontainer, dan hambatan dalam pengiriman barang di Tiongkok.

     



    "Faktor-faktor tersebut dapat meningkatkan biaya pengiriman dan logistik dan mengganggu rantai pasok global, serta krisis energi global akibat pemulihan yang lambat dari sisi suplai," ujar Riefky dikutip dari rilis Analisis Makroekonomi, Selasa, 19 Oktober 2021.

    Namun jika pasar bergejolak setelah The Fed mulai melakukan pengetatan, lanjutnya, Indonesia berada dalam posisi yang agak sulit. Meskipun berada dalam posisi yang lebih baik dibanding taper tantrum 2013 dalam hal cadangan devisa, krisis covid-19 dinilai masih terjadi dan sektor riil masih terhenti, sehingga membuat para pembuat kebijakan hampir tidak memiliki ruang untuk menerapkan pengetatan moneter dalam waktu dekat.

    Lebih lanjut, krisis energi global juga akan berdampak pada industri dalam negeri yang sangat bergantung terhadap bahan baku impor dari Tiongkok dan India. Meski demikian, hal itu membawa peluang bagi pengembangan industri hulu dalam negeri dan menguntungkan eksportir batu bara dan kelapa sawit.

    Secara keseluruhan, sebut Riefky, penurunan kasus harian covid-19 dan pelonggaran kebijakan PPKM diharapkan dapat mendorong pemulihan ekonomi domestik. Neraca perdagangan yang kuat, posisi cadangan devisa yang lebih tinggi, dan berlanjutnya program pembelian obligasi pemerintah membantu menjaga nilai tukar dan memperkuat imbal hasil obligasi.

    "Sehingga, hal-hal tersebut dapat menjaga ketahanan sektor eksternal. Tapi terlepas dari itu, ketidakpastian masih menjadi perhatian yang utama," pungkasnya.


    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id