Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2021 Diramal Negatif 0,6%

    Husen Miftahudin - 04 Mei 2021 11:48 WIB
    Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2021 Diramal Negatif 0,6%
    Ilustrasi. Foto: Medcom.id



    Jakarta: Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal I-2021 mencapai negatif 0,6 persen (yoy). Meski masih mengalami kontraksi, namun ekonomi RI di tiga bulan pertama tahun ini lebih baik dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2020 yang minus 2,19 persen (yoy).

    "PDB (Produk Domestik Bruto) di kuartal I-2021 mencapai negatif 0,6 persen (kisaran minus 0,8 persen sampai dengan minus 0,4 persen), dengan estimasi pertumbuhan untuk keseluruhan 2021 berkisar antara 4,4 persen hingga 4,8 persen," ungkap Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky yang dikutip dari hasil kajiannya, Selasa, 4 Mei 2021.






    Riefky menilai, prospek pemulihan akan menghadapi tantangan baik di jangka pendek, menengah, dan panjang. Terlepas dari pemulihan secara signifikan di sektor eksternal seperti surplus neraca perdagangan, tingkat konsumsi, dan investasi diperkirakan masih akan terbatas pertumbuhannya seiring masih tingginya angka kasus covid-19.

    Ia mengungkapkan bahwa untuk jangka pendek, kecepatan proses pemulihan ekonomi akan tergantung dari usaha pemerintah dalam menangani penyebaran kasus covid-19 melalui vaksinasi.

    "Berdasarkan estimasi kami, dengan asumsi tingkat vaksinasi domestik dalam dua bulan terakhir, dibutuhkan waktu sekitar 33 bulan untuk mampu mencapai target populasi dengan sekali vaksinasi dan 56 bulan untuk target populasi tersebut mendapatkan dua dosis vaksin," papar dia.

    Dengan tingkat vaksinasi saat ini, jelas Riefky, Indonesia terancam akan mengalami proses pemulihan yang cukup lama akibat panjangnya periode untuk mencapai herd-immunity melalui vaksinasi.

    Selanjutnya, untuk jangka menengah, melonjaknya defisit fiskal memberikan risiko pemulihan ekonomi yang lebih lambat ketimbang negara lainnya yang lebih dulu mampu menyelesaikan krisis kesehatan. Indonesia juga dihadapkan dengan risiko tekanan eksternal dari kemungkinan tapering-off oleh negara maju (terutama Amerika Serikat).

    Apabila krisis kesehatan tidak dapat ditangani secara cepat dan tepat, sebutnya, saat tapering-off mulai terjadi maka Indonesia akan menghadapi ketidakstabilan dari sisi finansial akibat derasnya arus modal keluar. Di saat yang sama, pembuat kebijakan tidak dapat melakukan pengetatan kebijakan moneter seiring pelemahan ekonomi yang masih berlangsung.

    Tantangan jangka menengah lainnya yang dihadapi Indonesia adalah memenuhi mandat menurunkan defisit kembali di bawah tiga persen pada 2023. Secara realistis, melihat permintaan agregat yang masih lemah dan penerimaan negara yang masih rendah hingga saat ini, hampir tidak mungkin pemerintah dapat memenuhi mandat tersebut tanpa mengganggu stabilitas makroekonomi.

    Apabila krisis terus berlangsung dan permintaan agregat belum pulih di tahun ini atau tahun depan, satu-satunya cara untuk mencapai mandat penurunan defisit tersebut adalah dengan menurunkan belanja pemerintah secara signifikan. Belanja tersebut termasuk juga stimulus yang dibutuhkan untuk mendorong laju ekonomi dan menjaga dampak negatif terhadap kelompok masyarakat rentan.

    "Di sisi lain, kebijakan moneter yang diambil oleh Bank Indonesia (BI) sebaiknya juga harus dipertahankan untuk menjaga stabilitas di jangka menengah," harap Riefky.

    Untuk meraih pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang kuat pascapandemi, jelasnya, perbaikan aspek fundamental ekonomi sangat diperlukan. Sejauh ini, pemerintah Indonesia dinilai telah mengambil beberapa langkah strategis untuk mencapai tujuan tersebut di fase pascapemulihan krisis saat ini.

    "Reformasi fundamental mencakup peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial yang efektif untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas sumber daya manusia. Hal lain yang juga krusial adalah mempercepat pembangunan infrastruktur fisik dan digital untuk meningkatkan dan meratakan pertumbuhan melalui aktivitas ekonomi yang lebih efisien dan terhubung dengan baik," pungkas Riefky.
     

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id