Kenaikan Cukai Rokok Bisa Gerus Pertumbuhan Ekonomi

    Nia Deviyana - 06 September 2019 14:07 WIB
    Kenaikan Cukai Rokok Bisa Gerus Pertumbuhan Ekonomi
    Ilustrasi. FOTO: MI/Ramdani.
    Jakarta: Anggota Banggar Fraksi Gerindra Bambang Haryo menolak rencana pemerintah menaikkan cukai rokok di atas 10 persen pada 2020. Bambang menuturkan penaikan cukai rokok memberikan dampak multiplier.

    Salah satunya, kata dia, bisa menggerus pertumbuhan ekonomi. Bambang mengatakan pertumbuhan ekonomi paling banyak dikonstribusikan dari pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

    "Usaha mikro yang jumlahnya 56 juta itu 25 persennya penjual rokok. Dengan naiknya harga rokok, berarti akan ada penjual yang kesulitan melakukan usahanya karena kekurangan modal," ujarnya saat dihubungi Medcom.id, Jumat, 6 September 2019.

    Tak hanya UMKM penjual rokok, lanjut Bambang, yang merasakan dampaknya tentu buruh-buruh linting dan petani tembakau. "Baru setelah itu industri rokok besarnya yang kena dampak," kata dia.

    Jika cukai dipaksakan naik, menurut Bambang, juga tidak akan efektif dalam menekan konsumsi rokok. Sebab, dia berpendapat, 70 persen perokok di Indonesia termasuk perokok berat yang memiliki prinsip "lebih baik tidak makan daripada tidak merokok."

    "Jadi sangat mungkin mereka menggerus kebutuhan lainnya demi memenuhi kebutuhan merokok. Dan kalau ini dipaksakan, akan muncul generasi stunting karena bapaknya lebih mengutamakan beli rokok," cetusnya.

    Direktur Jenderal Bea Cukai Heru Pambudi menjelaskan, rencana penaikan cukai rokok di atas 10 persen dilakukan agar target penerimaan cukai sebesar sembilan persen pada 2020 dapat tercapai. Penaikan tarif cukai rokok tak cuma mendongrak penerimaan cukai, tetapi juga menekan peredaran rokok ilegal.

    "Iya (di atas 10 persen). Supaya nanti yang ilegal itu semakin kecil dan diharapkan bisa meningkatkan rokok yang legal," ujar Direktur Jenderal Bea Cukai Heru Pambudi, ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, 3 September 2019.

    Heru menegaskan kenaikan tarif cukai hingga double digit itu akan disosialisasikan kepada para pengusaha rokok. Keputusan itu dimuat dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) dan diterbitkan pada Oktober tahun depan.

    "Dan itu akan ditentukan segera setelah ini dalam bentuk PMK. Penaikan tarif dalam bentuk PMK. Iya double digit tapi angkanya belum. Ya kalau bisa secepatnya, ya kita kan normal normal saja," ungkap dia.

    Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dan pemerintah sebelumnya menyepakati target penerimaan cukai naik dari 8,2 persen menjadi sembilan persen dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020.

    Pasalnya, target pertumbuhan penerimaan cukai dianggap masih terlalu moderat dan kurang mendukung target penerimaan negara secara keseluruhan di tahun depan. Dalam RAPBN 2020, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menetapkan penerimaan cukai sebesar Rp179,3 triliun atau tumbuh 8,2 persen dari outlook APBN 2019 yang sebesar Rp165,8 triliun.

    Melalui perubahan target pertumbuhan tersebut, kenaikan penerimaan cukai secara keseluruhan berubah menjadi Rp180,53 triliun untuk 2020.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id