Menkeu: Ketidakpastian Global Bikin Harap-Harap Cemas

    Eko Nordiansyah - 05 Desember 2019 07:56 WIB
    Menkeu: Ketidakpastian Global Bikin Harap-Harap Cemas
    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. FOTO: MI/PIUS ERLANGGA
    Jakarta: Kementerian Keuangan mengungkapkan ketidakpastian global yang terjadi tahun ini bukan hal yang baru. Adapun ketidakpastian yang telah berlangsung sejak beberapa tahun belakangan dipicu oleh kebijakan-kebijakan yang diambil suatu negara, namun berimbas ke negara lain.

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menceritakan ketidakpastian soal kesepakatan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok menjadi contoh yang paling nyata. Hanya saja dengan pergerakan kondisi global yang dinamis, tentu membuat sering kali terjadi perubahan pengambilan kebijakan.

    "Jadi artinya setiap hari kita dihadapkan kepada situasi berharap, kecewa, berharap, kecewa. Demikian juga dengan kondisi politik, baik itu di Inggris atau beberapa (negara) belahan dunia," kata Sri Mulyani, di Hotel Westin, Jakarta Selatan, Rabu, 4 Desember 2019.

    Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menambahkan ketidakpastian tanpa pola ini menjadi penyebab lemahnya kepercayaan dunia usaha dan pelaku ekonomi. Dengan arah kondisi global yang tak mudah ditebak, banyak pihak kesulitan dalam membuat proyeksi.

    "Karena tidak mungkin anda beroperasi sebagai pengusaha dan perusahaan di dalam situasi yang tidak pasti. Jadi ketidakpastian itu is not new at all, sesuatu yang bukan baru. Namun yang berbeda kali ini adalah polanya, pattern-nya dan frekuensi sama sekali enggak pasti," jelas dia.

    "Sehingga kita enggak biasa, apa yang disebut itu biasanya orang rasional mencoba kalkulasi ketidakpastian dilihat  pattern masa lalu, dan dibuat trennya dan kemudian sedikit buat forecast untuk bisa menjadi basis kita membuat keputusan. Hari ini yang kita percaya proyeksinya seperti ini, kemudian besok ada suatu kejadian jadi berubah sama sekali," lanjutnya.

    Dirinya menambahkan, ketidakpastian ini menjadi pemberat dari kemajuan ekonomi dunia. Bahkan proyeksi perekonomian global beberapa kali diturunkan menjadi hanya tiga persen. Padahal tahun lalu ekonomi dunia tumbuh mencapai 3,6 persen.

    "IMF mengatakan kalau pertumbuhan ekonomi dunia tiga persen itu sudah dekat resesi atau sudah resesi. Karena ekonomi dunia terdiri dari ekonomi maju dan negara-negara berkembang, di mana biasanya yang berkembang itu pertumbuhannya tinggi sehinga selalu bisa di atas tiga persen. Sekarang kalau average tiga persen berarti semuanya accross the board melemah," pungkas dia.

    (ABD)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id