RI Punya Daya Tawar Kuat Usai Naik Status

    Antara - 06 Juli 2020 18:11 WIB
    RI Punya Daya Tawar Kuat Usai Naik Status
    Foto: dok MI/Ramdani.
    Jakarta: Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan Indonesia memiliki daya tawar yang lebih kuat bagi investor setelah Bank Dunia menaikkan status menjadi negara berpendapatan menengah atas dari sebelumnya menengah bawah.

    "Kita sudah layak naik status karena program pembangunan lima tahun lebih ini mengarah kepada struktural dengan mengalokasikan anggaran subsidi energi untuk infrastruktur dan SDM," katanya dikutip dari Antara, Senin, 6 Juli 2020.

    Dia menambahkan investor global akan melihat negara yang pembangunannya cepat atau ada kemajuan, dan pemerintah Indonesia saat ini mendorong pemerataan pembangunan tersebut.

    Selain daya tawar kuat, kata dia, keuntungan lainnya kepercayaan dari investor serta imbal hasil dari instrumen investasi surat utang yang dikeluarkan pemerintah lebih bersaing.

    Sejumlah lembaga internasional, kata dia, sebelumnya memberikan penilaian layak investasi kepada Indonesia.

    Dengan begitu Indonesia tidak lagi banyak bergantung atau mengurangi pinjaman luar negeri dari lembaga multilateral namun lebih banyak menarik pembiayaan dari instrumen investasi.

    "Kita punya peringkat investasi yang bagus sehingga kita lebih PD (percaya diri) menerbitkan global bond (surat utang global)," katanya.

    Menurut dia, status baru itu tidak terlepas dari upaya pemerintah fokus dalam pembangunan infrastruktur yang berdampak kepada sosial ekonomi masyarakat lebih baik yakni gini rasio dan pengangguran menurun pada 2019.

    Pembangunan infrastruktur itu, lanjut dia, tanpa disadari masyarakat juga mendorong peningkatan pendapatan per kapita Indonesia 2019.

    Bank Dunia sebelumnya menyebutkan pendapatan nasional (GNI) per kapita Indonesia 2019 mencapai USD4.050, naik dari tahun sebelumnya mencapai USD3.840.

    Klasifikasi GNI Bank Dunia yang menjadi rujukan lembaga dan organisasi internasional adalah negara pendapatan rendah USD1.035, menengah bawah USD1.036-USD4.045, menengah atas USD4.046-USD12.535, dan tinggi di atas USD12.535.

    Sisi lainnya, kata dia, dengan status baru lebih tinggi ini, maka lembaga multilateral akan lebih memilih negara berpendapatan rendah yang lebih membutuhkan untuk penyaluran pinjaman.

    "Tapi Indonesia kan mengurangi pinjaman itu, kita mengeluarkan global bond jadi imbal hasil yang ditawarkan lebih kompetitif dan bersaing," ucapnya.

    Meski naik status, namun ekonom muda ini memandang pemerintah masih perlu melakukan pembenahan, di antaranya daya saing SDM, hilirisasi sumber daya alam agar tidak bergantung komoditas, dan industrialisasi.

    "Harapannya, 2045 Indonesia bisa keluar dari negara pendapatan menengah menjadi negara maju," pungkasnya.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id