Kebijakan Bank Sentral Belum Mampu Cegah Perlambatan Ekonomi Dunia

    Angga Bratadharma - 09 Desember 2019 12:51 WIB
    Kebijakan Bank Sentral Belum Mampu Cegah Perlambatan Ekonomi Dunia
    Ilustrasi. Foto: AFP.
    Labuan Bajo: Ketegangan hubungan dagang terutama Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok telah berdampak pada ekonomi dunia yang terus tumbuh melambat. Bahkan, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia bakal turun dari 3,6 persen pada 2018 menjadi hanya 3,0 persen pada 2019.

    "Ketegangan hubungan dagang menyebabkan penurunan volume perdagangan dunia. Kegiatan produksi di banyak negara yang berkurang menyebabkan penurunan harga komoditas," kata Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Endy Dwi Tjahjono, saat Pelatihan Wartawan Bank Indonesia, di Labuan Bajo, NTT, Senin, 9 Desember 2019.

    Endy menambahkan pelonggaran kebijakan moneter berupa penurunan suku bunga acuan dan ekspansi neraca bank sentral di berbagai negara belum mampu mencegah perlambatan ekonomi dunia. Tidak ditampik, persoalan hubungan dagang yang memanas di antara dua ekonomi terbesar di dunia telah menekan laju perekonomian global.

    Dirinya mencatat bank sentral AS, the Fed, telah memangkas suku bunga acuan sebanyak tiga kali atau 75 basis poin. Kemudian, bank sentral Brasil memangkas suku bunga acuan 150 basis poin. Tidak hanya kedua bank sentral tersebut, bank sentral di negara lain juga mengikuti pemangkasan suku bunga acuan sejalan dengan ketidakpastian perekonomian.

    "Hampir semua bank sentral sudah menurunkan suku bunga acuan kecuali bank sentral Jepang yang selama ini suku bunga acuannya memang minus. Tapi, langkah lain juga bukan hanya kebijakan moneter dari sisi suku bunga, tapi juga menambahkan injeksi lukuidtas dan dampaknya di pasar global itu uang mengalir ke negara emerging market seperti Indonesia," tukasnya.

    Di sisi lain, Kepala Alokasi Aset APAC Adrian Zuerche meyakini pertumbuhan ekonomi global akan pulih pada paruh kedua 2020, ketika perang dagang antara Washington dan Beijing mereda dan kebijakan moneter bank sentral mulai berlaku.

    "Ada banyak 'kabut' di sekitar perdagangan, sehingga memengaruhi perkiraan kami untuk pertumbuhan ekonomi," kata Zuercher.

    Tarif yang ditetapkan AS-Tiongkok terhadap satu sama lain menjadi risiko utama perusahaan-perusahaan. Namun, meskipun pertumbuhan ekonomi saat ini lambat, pemulihan signifikan diperkirakan terjadi pada kuartal keempat.

    Baik AS maupun Tiongkok telah mengumumkan upaya menuju kesepakatan dagang fase satu pada Oktober, dan kemungkinan akan ditandatangani pada Desember 2019. Namun, para pejabat di Beijing mengatakan mereka ingin melihat terlebih dahulu apakah Presiden Donald Trump memenangkan masa jabatan kedua.

    Sedangkan Trump mengatakan mungkin lebih baik menunggu sampai setelah pemilihan 2020 untuk mencapai kesepakatan perdagangan dengan Tiongkok.

    "Kami melihat bahwa ekonomi AS benar-benar melambat dan kami melihat peluang yang relatif bagus, bahwa mungkin ditandatangani kesepakatan fase pertama, dan bisa saja tarif dikurangi atau bahkan dihapus. Itu seharusnya cukup baik bagi perekonomian untuk pulih perlahan," pungkas Zuercher.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id