comscore

LPS: Indonesia Sudah Keluar dari Resesi

Angga Bratadharma - 12 Desember 2020 10:31 WIB
LPS: Indonesia Sudah Keluar dari Resesi
Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa. FOTO: MI/SUSANTO
Jakarta: Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) berpandangan ekonomi Indonesia sudah menunjukkan beberapa perbaikan sejalan dengan upaya yang dilakukan oleh pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan pemangku kepentingan lainnya yang terkait. Industri perbankan pun memiliki likuiditas yang cukup untuk berkontribusi melalui fungsi intermediasi.

Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa tidak menampik pandemi covid-19 telah memberikan tekanan terhadap perekonomian Indonesia. Meski di kuartal III-2020 ekonomi Indonesia terkontraksi yang artinya sudah dua kali karena di kuartal II juga tumbuh minus, namun Purbaya yakin saat ini Indonesia sudah melalui masa sulit.
"Orang bilang ekonomi kita lagi resesi karena sudah dua kali berturut-turut negatif pertumbuhannya. Padahal kalau standar Amerika menghitungnya itu kuartal ke kuartal di kali empat. Itu kalau kita lakukan di angka-angka kita di kuartal ketiga sebetulnya kita sudah positif," kata Yudhi, dalam sebuah webinar, Jumat, 11 Desember 2020.

Jika menghitung dengan metode tersebut, Yudhi meyakini, Indonesia sudah keluar dari resesi ekonomi. "Ekonomi kita sudah keluar dari masa resesi. Ini bukan optimisme yang berlebihan. Ini terjadi karena respons kebijakan yang baik dari pemerintah, bank sentral, maupun pengambil kebijakan di pemerintahan," tegasnya.

Ia menambahkan industri perbankan di Indonesia sekarang juga memiliki likuiditas yang kuat. Perbaikan likuiditas perbankan tidak lepas dari upaya pemerintah yang secara aktif melakukan injeksi terutama sejak semester kedua di 2020. Namun, Yudhi tidak memungkiri, pertumbuhan kredit masih perlu lebih didorong guna mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

Saat awal mula pandemi terjadi, Yudhi mengakui, pada Maret, April, Mei, dan Juni industri perbankan di Indonesia tertekan signifikan dan terdapat beberapa bank yang mengalami kesulitan likuiditas. Hal itu, dijelaskan Yudhi, lantaran masyarakat panik dan mengambil dananya dari sistem perbankan Tanah Air.

Namun untungnya, masih kata Yudhi, sudah ada perbaikan signifikan di perekonomian Indonesia terutama di sistem keuangan sejalan dengan upaya yang dilakukan pemerintah dan BI. Misalnya pemerintah memindahkan uang pemerintah di BI ke sistem perbankan yang akhirnya membuat likuiditas di perbankan tidak lagi ketat.

"Saat yang bersamaan bank sentral menambah likuiditas ke sistem perekonomian. Kita mulai melihat dampak yang cukup signifikan. Uang primer di sistem perekonomian yang tadinya tumbuh negatif sampai 15,4 persen, karena orang mengambil uangnya dari sistem keuangan, kemudian diinjeksi oleh BI membuat kondisi membaik dengan negatifnya berkurang," jelasnya.

Upaya yang dilakukan pemerintah dan bank sentral itu, tambah Yudhi, yang membuat perbankan yang awalnya kesulitan likuiditas kembali bisa bernafas lega. "Tadinya tidak semua megap-megap ada sedikit yang megap-megap. Sekarang semua sudah tenang karena uangnya sudah cukup kembali ke sistem perekonomian lagi," pungkasnya.

(ABD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id