BI: Penguatan Rupiah Didorong Derasnya Pasokan Valas

    Husen Miftahudin - 23 Januari 2020 19:34 WIB
    BI: Penguatan Rupiah Didorong Derasnya Pasokan Valas
    Rapat Dewan Gubernur BI. Foto: Medcom.id/Husen Miftahudin
    Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) terus mengalami penguatan seiring derasnya pasokan valuta asing (valas). Mata uang Garuda itu kian menunjukkan keperkasaannya lantaran modal asing yang masuk ke Indonesia juga mengalir deras.

    Bank Indonesia (BI) mencatat, per 22 Januari 2020 rupiah menguat 1,74 persen point to point (ptp) dibandingkan dengan level akhir Desember 2019. Perkembangan ini melanjutkan penguatan pada 2019 yang tercatat 3,58 persen (ptp) atau 0,76 persen secara rata-rata.

    "Penguatan rupiah didorong pasokan valas dari para eksportir serta aliran masuk modal asing yang tetap berlanjut sejalan prospek ekonomi Indonesia yang tetap terjaga, daya tarik pasar keuangan domestik yang tetap besar, dan ketidakpastian pasar keuangan global yang mereda," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers di Kantor Pusat BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis, 23 Januari 2020.

    Struktur pasar valas juga semakin kuat ditandai dengan meningkatnya volume transaksi dan kuotasi yang lebih efisien, serta makin berkembangnya pasar Domestic Non Delivery Forward (DNDF). Kondisi ini kemudian mendukung peningkatan efisiensi pasar valas.

    "Bank Indonesia memandang bahwa penguatan nilai tukar rupiah sejalan dengan kondisi fundamental, semakin baiknya mekanisme pasar, dan keyakinan para pelaku pasar terhadap kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia dan pemerintah," jelas Perry.

    Secara keseluruhan, penguatan nilai tukar rupiah memberikan dampak positif terhadap momentum pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makroekonomi. Pasalnya, ekspor komoditas mengalami peningkatan signifikan sejalan dengan adanya kenaikan permintaan dan harga.

    "Ekspor manufaktur juga terbantu dengan penguatan nilai tukar rupiah karena manufaktur itu butuh impor. Dengan impor yang lebih baik, produksi yang semakin baik, maka ekspor manufakturnya juga akan meningkat," beber dia.

    Penguatan rupiah juga membantu berbagai produksi dalam negeri dan investasi sehingga berimplikasi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi domestik. Secara keseluruhan, tegas Perry, dampak penguatan nilai tukar rupiah positif terhadap pertumb ekonomi Indonesia.

    "Ke depan, Bank Indonesia memandang nilai tukar rupiah tetap stabil sesuai dengan fundamentalnya dan mekanisme pasar yang terjaga. Untuk mendukung efektivitas kebijakan nilai tukar dan memperkuat pembiayaan domestik, Bank Indonesia terus mengakselerasi pendalaman pasar keuangan, baik pasar uang maupun pasar valas," tutup Perry.



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id