comscore

Indonesia Antisipasi Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi

Indriyani Astuti - 06 Agustus 2022 18:00 WIB
Indonesia Antisipasi Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi
Ilustrasi. Foto: dok MI.
Jakarta: Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Edy Priyono mengatakan Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2022 sebesar 5,44 persen secara tahunan (year on year). Dengan capaian itu, ancaman resesi kemungkinan besar tidak terjadi di Indonesia, namun hal yang perlu diantisipasi ialah perlambatan pertumbuhan ekonomi.
 
"Perlambatan ekonomi disebabkan oleh faktor moneter dan fiskal," ujarnya dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu, 6 Agustus 2022.
 
Dari sisi moneter, jelas Edy, meningkatnya Giro Wajib Minimum (GWM) meskipun sampai saat ini Bank Indonesia belum menaikkan suku bunga acuan sehingga implikasinya kredit dari perbankan tidak sebesar sebelumnya.
 
Sementara dari sisi fiskal, sambungnya, kebijakan pemerintah menaikkan anggaran subsidi berpotensi menurunkan kesempatan Indonesia menggunakan windfall profit (keuntungan tak terduga) akibat kenaikan harga komoditi untuk keperluan produktif.
 
"Apalagi mulai 2023, kita harus kembali ke defisit anggaran maksimal tiga persen. Artinya anggaran untuk belanja semakin ketat," ucapnya.
 
Baca juga: KSP: Inflasi Terkendali Jadi Pemicu Pertumbuhan Ekonomi RI Melesat 5,44%

 
Tantangan lainnya, sambung Edy, yakni peningkatan suku bunga. Beberapa negara telah melakukan itu. Edy menjelaskan apabila Indonesia tidak melakukan hal serupa, risiko yang terjadi aliran modal ke luar atau capital outflow berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah.
 
"Sebaliknya, jika BI juga terpaksa menaikkan suku bunga acuan, penyaluran kredit akan terganggu dan pertumbuhan sektor riil juga akan melambat. Sekali lagi, pemerintah, BI dan lembaga terkait bekerja sama," tukasnya.
 
Indonesia tercatat mengalami inflasi per Juli 2022 sebesar 4,94 persen. Edy mengungkapkan pemerintah terus mewaspadai potensi kenaikan inflasi terutama jika harga minyak dunia tidak bisa kembali turun atau di atas USD100 per barel. Apabila itu terjadi, Edy mengatakan tidak tertutup kemungkinan akan dilakukan penyesuaian harga BBM.
 
Saat ini, terang dia, pemerintah tetap menerapkan subsidi dan kompensasi energi untuk menahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), gas, dan listrik. Tujuan dari subsidi energi untuk menjaga harga kebutuhan masyarakat tidak melonjak naik sehingga konsumsi masyarakat masih bisa tumbuh cukup baik sebesar 5,51 persen.

(HUS)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id