comscore

Indonesia Punya Posisi Sentral di Pengaturan Transisi Energi

Eko Nordiansyah - 25 Mei 2022 16:32 WIB
Indonesia Punya Posisi Sentral di Pengaturan Transisi Energi
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. FOTO: Kemenko Perekonomian
Jakarta: Isu perubahan iklim yang salah satunya disebabkan oleh penggunaan bahan bakar fosil saat ini menjadi fokus bersama. Untuk itu, diperlukan langkah mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) melalui penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT).

Pada saat yang sama, dunia saat ini berada dalam terpaan krisis pangan, energi, dan keuangan yang dipicu oleh gejolak konflik di Ukraina. Selain itu, pandemi covid-19 yang masih terus berlanjut meski jumlah kasus sudah menurun drastis.
"Penting bagi kita untuk mengenali situasi yang dihadapi, serta perlu memastikan bahwa kita sudah menyeimbangkan permintaan saat ini untuk energi konvensional, sambil tetap berkomitmen pada upaya transisi energi," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 25 Mei 2022.

Dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik meski di tengah pandemi, Indonesia memiliki kebutuhan energi yang besar. Namun, muncul masalah karena penggunaan tenaga batu bara sehingga meningkatkan emisi GRK sebesar 140 persen antara 1990 dan 2017.

Dalam Presidensi G20 Indonesia, transisi energi juga menjadi salah satu tema utama karena seluruh negara yang terlibat ingin mencapai kesepakatan global dalam upaya memitigasi dampak buruk perubahan iklim untuk generasi mendatang.

Dalam forum G20 tersebut, Indonesia akan memperkenalkan skenario negara untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) yang disebut National Grand Energy Strategy (GSEN) yang mencakup rencana transisi dari energi fosil ke EBT.

Dalam gelaran COP26 akhir tahun lalu, Indonesia membuat komitmen iklim baru dengan menetapkan target NZE pada 2060 atau lebih awal. GSEN menjanjikan komitmen yang lebih ambisius dengan target 100 persen porsi EBT dalam bauran energi di 2060.

"Permintaan dan potensi energi terbarukan di Indonesia semakin meningkat, sebab diperkirakan kebutuhan energi Indonesia juga akan meningkat semakin besar. Data menunjukkan Indonesia memiliki penambahan energi terbarukan yang konsisten dalam bauran energi secara keseluruhan," ungkapnya.

Penelitian menunjukkan transisi energi akan membutuhkan investasi yang besar. Untuk mendorong hal ini, Indonesia akan memainkan peran penting dalam menerapkan pembiayaan hijau dan berkelanjutan yang inovatif, sekaligus memastikan jalur investasi yang tepat.

Menciptakan banyak lapangan kerja

Energi terbarukan juga diprediksi akan menciptakan banyak lapangan kerja. Keuntungan tidak langsung ini juga akan mencakup pemberdayaan transfer teknologi dan pengurangan ketergantungan pada impor produk minyak bumi dan batu bara yang diganti panel surya dan manufaktur kendaraan listrik.

“Dalam jangka panjang, harus juga dipastikan bahwa terjadi transisi yang penuh keadilan terhadap manfaat biaya dan memastikan tidak ada yang tertinggal. Bagi Indonesia sendiri, jika dikelola dengan baik, transisi tersebut tentu saja memberikan peluang," ujar dia.


Ia menambahkan, arah yang dituju untuk mencapai ambisi adalah positif. Namun Airlangga menilai, tantangan seperti aspek pembiayaan, kurangnya standar desain yang memadai, kesadaran yang terbatas, dan keterbatasan ruang akan selalu ada.

"Saat ini adalah momentum tepat untuk bersama-sama mengambil kebijakan strategis pemulihan ekonomi sekaligus melakukan transisi energi. Dengan momen G20, GCRG, COP26, dan lainnya, Indonesia akan berada di posisi sentral yakni dengan ikut mengatur transisi energi," pungkasnya.

(ABD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id