Menkeu Usul Ubah Postur RAPBN 2020

    Annisa ayu artanti - 06 September 2019 12:14 WIB
    Menkeu Usul Ubah Postur RAPBN 2020
    Menteri Keuangan Sri Mulyani. FOTO: dok MI.
    Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengusulkan pendapatan dan belanja negara berubah dari Rencana Anggaran dan Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020 yang disampaikan Presiden Joko Widodo dalam nota keuangan.

    Sri Mulyani mengatakan perubahan asumsi makro menjadi landasan perubahan pendapatan dan belanja negara tersebut. Pendapatan dan belanja negara diusulkan naik masing-masing Rp11,6 triliun.

    "Perubahan dari asumsi dasar makro maupun indikator minyak maka terjadi perubahan di dalam postur RAPBN 2020," kata Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan badan anggaran di Komplek Parlementer, Senayan, Jakarta, Jumat, 6 September 2019.

    Pendapatan negara diproyeksikan naik Rp11,6 triliun dari Rp2.221,5 triliun menjadi Rp2.233,2 triliun. Kenaikan pendapatan negara ini naik karena penerimaan perpajakan ditargetkan meningkat Rp3,9 triliun.

    "Kenaikan perpajakan ini akibat penurunan harga minyak mentah (ICP), lalu kenaikan lifting dan penurunan cost recovery yang menyebabkan nett effect-nya tambahan PPh migas Rp2,4 triliun," jelas dia.




    Selain itu, pendapatan negara diproyeksikan naik juga dikarenakan PBB akan ditargetkan Rp300 miliar dan dari cukai hasil tembakau akan dinaikan target Rp1,2 triliun "Sehingga total pendapatan negara dari perpajakan Rp3,9 triliun," sebut dia.

    Sedangkan dari sisi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBB), Ani menyebutkan PNBP minyak diproyeksikan naik Rp6 triliun dan PNBP gas akan naik Rp700 miliar. Sementara Domestic Market Obligation (DMO) akan terjadi kenaikan Rp15,9 miliar. Pendapatan negara juga dipicu oleh kenaikan dari Kekayaan Negara yang Dipisahkan (KND) yang diproyeksikan naik Rp1 triliun.

    "Dengan demikian total PNBP secara netto ada kenaikan Rp7,7 triliun. Sehingga dalam postur RAPBN 2020 terjadi kenaikan pendapatan negara Rp11,6 triliun," jelas dia.

    Belanja Negara Juga Naik

    Di sisi lain, mantan direktur Bank Dunia ini menyampaikan belanja negara diproyeksikan naik Rp11,6 triliun dari Rp2.528 triliun menjadi Rp2.540,4 triliun pada postur sementara RAPBN.

    Belanja negara itu terdiri dari belanja pemerintah pusat yang diproyeksi naik Rp13,5 triliun dari Rp1.670 triliun menjadi Rp1.683,5 triliun. Lalu subsidi energi sebesar Rp125,3 triliun, anggaran pendidikan sebesar Rp8,2 triliun, dan transfer ke daerah, dan dana desa sebeesar Rp856,9 triliun.

    "Karena subsidi energi turun Rp12,6 triliun, maka belanja negara juga turun Rp11,2 triliun. Tapi kita ada penambahan di belanja non K/L untuk kebutuhan mendesak Rp21,7 triliun dan ada kenaikan DBH Rp1,4 triliun. Maka jika dihitung lagi belanja negara tetap naik Rp11,6 triliun," pungkas dia.

    Dengan demikian, defisit anggaran tetap sebesar 1,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan pembiayaan anggaran sebesar Rp307,2 triliun. Semua postur sementara hasil panja itu pun disetujui oleh anggota Badan Anggaran dan Pemerintah.

     

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id