comscore

Ancaman Resesi AS, Ini yang Perlu Diwaspadai Indonesia

Eko Nordiansyah - 05 Juli 2022 15:32 WIB
Ancaman Resesi AS, Ini yang Perlu Diwaspadai Indonesia
Ilustrasi. Foto: Medcom.id
Jakarta: Ekonomi Amerika Serikat (AS) terancam mengalami resesi di tengah kenaikan inflasi sebesar 8,6 persen dengan mencatatkan rekor baru dalam 40 tahun terakhir. Kondisi ini tentunya perlu diwaspadai oleh pemerintah karena dapat berimbas kepada ekonomi Indonesia.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, situasi global dapat memicu pelemahan nilai tukar rupiah serta kenaikan inflasi. Oleh karena itu, pemerintah diminta bersiap agar dapat meredam dampak yang ditimbulkan.
"Kondisi ekonomi global yang dipenuhi risiko menimbulkan pelemahan kurs dan dikhawatirkan memicu imported inflation atau kenaikan biaya impor terutama pangan," kata dia kepada Medcom.id, Selasa, 5 Juli 2022.

Sejauh ini, ia mengungkapkan, imported inflation belum dirasakan karena produsen masih menahan harga ditingkat konsumen. Namun ketika beban biaya impor sudah naik signifikan akibat selisih kurs maka imbasnya akan dirasakan juga oleh para konsumen.

Disisi lain, beban utang luar negeri (ULN) sektor swasta meningkat, karena pendapatan yang diperoleh dalam bentuk rupiah sementara bunga dan cicilan pokok berbentuk valas. Situasi currency mismatch akan mendorong swasta melakukan berbagai cara salah satunya efisiensi.

"Tidak semua perusahaan swasta yang memiliki ULN lakukan hedging. Pelemahan kurs rupiah mendorong percepatan kenaikan suku bunga acuan. BI perlu naikkan 25 sampai 50 basis poin (bps) suku bunga untuk tahan aliran modal keluar," ungkapnya.
 
Baca juga: Indonesia Dinilai Punya Modal Kuat Tangkal Ancaman Resesi AS


Meski begitu, ia menambahkan, kenaikan suku bunga akan berdampak pada meningkatnya suku bunga perbankan. Selain itu, masyarakat juga akan merasakan dampak kenaikan suku bunga baik dari sisi Kredit Pemilikan Rumah (KPR) maupun bagi UMKM.

"Tapi menaikkan suku bunga acuan berimbas kepada pelaku usaha korporasi, UMKM maupun konsumen. Cicilan KPR dan kendaraan bermotor bisa lebih mahal. Jadi sektor properti, konstruksi, industri manufaktur dan perdagangan diperkirakan mulai alami perlambatan," pungkas dia.

(HUS)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id