comscore

Penggolongan Perusahaan dari Produksi Bikin Sistem Cukai Tak Efektif

Antara - 13 Juni 2022 18:44 WIB
Penggolongan Perusahaan dari Produksi Bikin Sistem Cukai Tak Efektif
Tembakau. Foto : Medcom.id,
Jakarta: Sistem penggolongan tarif cukai hasil tembakau berdasarkan jumlah produksi menjadi peluang bagi perusahaan rokok untuk melakukan penghindaran pajak. Besaran tarif cukai yang ditentukan lewat ambang batas produksi juga menyebabkan adanya selisih tarif yang lebar antargolongan.

Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri menilai struktur cukai di Indonesia yang terdiri dari delapan golongan saat ini masih terlalu banyak dan tidak efektif. Akibatnya, harga rokok di pasaran menjadi bervariasi sehingga masih terjangkau meski pemerintah menaikkan tarif cukai hasil tembakau setiap tahunnya.
"Struktur delapan layer itu masih memberikan degree of maneuverability kepada perusahaan untuk menyiasati kenaikan cukai. Jika dikaitkan dengan kesehatan, batasan tiga miliar batang itu apa urusannya?" kata dia dalam webinar, Senin, 13 Juni 2022.

Oleh karena itu, Faisal mendorong dilanjutkannya kebijakan simplifikasi struktur tarif cukai. Ia berharap pemerintah dapat merevisi ketentuan terkait pengaturan penggolongan pabrikan rokok yang dinilai tak lagi relevan, terutama terkait besaran batasan golongan dua.

"Adanya penggolongan ini kan concern-nya untuk UKM. Pengertian UKM itu apa? Rasanya pabrikan rokok mesin itu bukan UKM lagi. Oleh karena itu sigaret kretek mesin tidak perlu ada penggolongan karena perusahaan rokok besar semua," ungkapnya.

Analis Kebijakan Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febri Pangestu menambahkan, pembedaan golongan berdasarkan jenis dan produksi rokok menjadi penyebab kompleksnya struktur tarif cukai di Indonesia. Untuk itu pemerintah juga tengah berupaya agar tarif cukai bisa disederhanakan.

"Hal ini perlu disederhanakan dengan tujuan untuk meningkatkan tingkat compliance dari perusahaan rokok, meminimalisir peredaran rokok ilegal, menyederhanakan sistem administrasi, mengoptimalkan penerimaan negara, dan mengurangi rentang harga," ujar dia.

Adapun, dalam struktur tarif cukai saat ini ada batasan produksi untuk rokok mesin, yaitu tiga miliar batang untuk menentukan perusahaan berada pada golongan satu atau dua. Febri menjelaskan idealnya perusahaan rokok tidak dibedakan tarifnya berdasarkan penggolongan dari jumlah batasan produksi.

"Mengacu batasan produksi tiga miliar batang, menurut saya itu masih terlalu besar. Idealnya, ketika kebijakan cukai itu ditujukan untuk pengendalian konsumsi, seharusnya tidak perlu ada pembedaan tarif dan golongan," pungkasnya.

(SAW)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id