Pemerintah Diminta Tunda Kenaikan Cukai Rokok

    Husen Miftahudin - 15 September 2020 10:47 WIB
    Pemerintah Diminta Tunda Kenaikan Cukai Rokok
    Ilustrasi industri rokok. Foto: Antara/Seno
    Jakarta: Sekretaris Jenderal Gerakan Kebangkitan Petani dan Nelayan Indonesia (Gerbang Tani) Billy Arie meminta pemerintah menunda kenaikan cukai rokok. Langkah menaikkan cukai secara serampangan akan mengakibatkan kehancuran bagi petani tembakau.

    Kenaikan cukai akan memberikan dampak signifikan kepada petani tembakau karena akan mengurangi penyerapan dan juga kenaikan harga rokok yang mengancam keberadaan industri rokok kretek tangan. Karena itu, para petani tembakau mendesak pemerintah untuk mempertimbangkan ulang rencana kenaikan cukai rokok.

    "Langkah menaikkan cukai secara serampangan akan mengakibatkan kehancuran bagi petani tembakau. Karena itu Gerbang Tani mendesak pemerintah untuk mempertimbangkan ulang rencana kenaikan cukai rokok," ujar Billy dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 15 September 2020.

    Seharusnya, lanjut dia, pemerintah fokus pada kebijakan yang kondusif bagi petani tembakau dan industri hasil tembakau (IHT). Misalnya saat ini, perlu peta jalan (roadmap) IHT yang dalam penyusunannya melibatkan semua pemangku kepentingan. Sebelum roadmap IHT rampung, tegas Billy, pemerintah jangan mengeluarkan kebijakan baru.

    "Kenaikan cukai berdampak langsung ke petani tembakau. Faktor pemulihan ekonomi akibat covid-19 perlu menjadi dasar kebijakan cukai. Pemerintah jangan membuat kebijakan cukai yang semakin memperparah situasi industri," tuturnya.

    Menurut Billy, saat ini kondisi petani tembakau di Indonesia mengalami tiga tantangan utama. Yakni, menurunnya pendapatan, risiko iklim yang tidak bisa dihindari, dan kurangnya teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas.

    "Kurangnya teknologi modern pada perkebunan tembakau yang biasanya berukuran kurang dari dua hektare, berdampak pada sangat rendahnya level produktivitas di Indonesia," papar Billy.

    Oleh sebab itu, petani tembakau butuh dukungan teknis. Kemampuan dan teknologi yang digunakan akan memberdayakan para petani untuk menanam tembakau yang dapat digunakan sebagai sumber energi yang dapat diperbarui atau untuk mengekstraksi nikotin untuk produk rokok elektrik.

    Sementara itu, Ketua Umum Gerbang Tani Idham Arsyad mengungkapkan Indonesia memproduksi 152.319 ton daun tembakau pada 2017, dan menjadi produsen daun tembakau terbesar keenam dunia setelah Tiongkok, Brasil, India, Amerika Serikat (AS), dan Zimbabwe.

    "Penggunaan teknologi yang sudah ketinggalan menghambat produktivitas industri perkebunan tembakau hingga berada jauh di bawah negara produsen daun tembakau lainnya," ketusnya.

    Dia bilang, kebijakan yang tidak terintegrasi antarkementerian membuat petani terus berjuang untuk hidup dari tanaman yang membutuhkan pengerjaan yang intensif ini.

    "Industri rokok di Indonesia adalah kontributor lapangan pekerjaan, pertumbuhan ekonomi, dan pendapatan pajak yang signifikan. Rokok adalah produk tembakau yang paling populer yang dicari oleh 1,1 miliar konsumen di seluruh dunia," ucapnya.

    Idham mengatakan kebijakan di Indonesia tentang perkebunan tembakau dan industri rokok tidak terkoordinasi dengan baik. Padahal, pendapatan cukai dari produk tembakau mencapai Rp143,66 triliun atau setara dengan USD10,33 miliar pada 2019 dan merupakan 95,5 persen dari seluruh pendapatan cukai.

    Terlebih lagi, menurut laporan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) ada 1,7 juta orang yang bekerja baik di sektor produksi daun tembakau maupun cengkeh pada Maret 2019. Petani tembakau menerima dukungan dari pemerintah daerah yang menerima dana melalui pembagian dua persen dari pendapatan cukai hasil tembakau.

    "Pemerintah pusat harus intervensi untuk meningkatkan produksi dan produktivitas tembakau. Pemerintah harus mempromosikan program substitusi impor dalam Peta Jalan Tembakau 2019-2024 yang  mencakup target jangka pendek dan jangka panjang, strategi, dan langkah operasional untuk mencapai target-target tersebut," tutup Idham.

    (DEV)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id