comscore

Ekonom: Defisit Indonesia Punya Potensi di Bawah 3% pada 2023

Antara - 08 Juni 2022 12:53 WIB
Ekonom: Defisit Indonesia Punya Potensi di Bawah 3% pada 2023
Ilustrasi defisit anggaran. Foto: dok MI.
Jakarta: Kepala Ekonom Citibank Indonesia Helmi Arman Mukhlis mengatakan defisit anggaran Indonesia memiliki potensi untuk terealisasi di bawah tiga  persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2023.

Hal tersebut, menurut dia, sesuai dengan target pemerintah terkait konsolidasi fiskal 2023 yaitu mengembalikan defisit anggaran ke level tiga persen pada 2023 setelah diizinkan di atas tiga persen melalui UU Nomor 2 Tahun 2020.
"Yang terjadi pada 2023 adalah defisit kembali ke tiga persen atau kurang dari tiga persen. Apa masih mungkin? Kami pikir begitu. Kami pikir itu masih mungkin," katanya dalam acara Asian Development Bank Indonesia bertajuk Indonesia Development Talk 6, Rabu, 8 Juni 2022.

Helmi menuturkan defisit anggaran tahun depan berpotensi di bawah tiga persen karena terdapat beberapa faktor pendukung termasuk sangat terkendalinya pandemi covid-19.

Ia menjelaskan, kasus covid-19 di Indonesia yang sangat terkendali nantinya menyebabkan pengeluaran pemerintah untuk penanganan sektor kesehatan khususnya terkait pandemi ini akan turun. Pengeluaran-pengeluaran pemerintah di sektor kesehatan dalam penanganan pandemi tersebut seperti biaya vaksinasi dan biaya rawat inap pasien covid-19.

Realisasi vaksinasi covid-19 per 7 Juni 2022 pukul 18.00 WIB telah mencapai 96,34 persen atau 200,65 juta untuk dosis pertama, 80,58 persen atau 167,82 juta dosis kedua dan 22,52 persen atau 46,91 juta dosis ketiga.

"Biaya vaksinasi dan biaya rawat inap untuk covid-19 ini kemungkinan besar bisa turun banyak tahun depan," ujar Helmi.

Selain dari sisi pengeluaran pemerintah dalam rangka penanganan covid-19, faktor lain yang mendorong defisit di bawah tiga persen adalah adanya pijakan ekonomi yang lebih kokoh.

Pijakan ekonomi yang kokoh ini salah satunya bisa dilihat dari sudah banyaknya lapangan pekerjaan yang tercipta sehingga pemberian subsidi dari pemerintah diperkirakan turun.

Terlebih lagi, Helmi memperkirakan harga komoditas global terutama minyak akan turun pada tahun depan sehingga semakin menambah optimisme defisit anggaran di bawah tiga persen.

Di sisi lain, katanya, harga batubara dan minyak sawit yang juga akan turun akan menyebabkan pendapatan negara di sektor sumber daya alam (SDA) akan lebih rendah.

"Namun kami kira dampaknya masih positif bagi anggaran, artinya masih bisa menurunkan defisit fiskal. Tapi yang perlu kami soroti adalah keputusan untuk tidak menaikkan harga BBM," katanya.


(HUS)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id