Cuan Kian Optimal, Pemerintah Turunkan PPh atas Bunga Obligasi bagi Investor Domestik

    Antara - 04 September 2021 11:03 WIB
    <i>Cuan</i> Kian Optimal, Pemerintah Turunkan PPh atas Bunga Obligasi bagi Investor Domestik
    Ilustrasi. FOTO: Medcom.id



    Jakarta: Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 91 Tahun 2021 untuk menurunkan tarif Pajak Penghasilan (PPh) atas bunga obligasi bagi investor domestik atau Wajib Pajak Dalam Negeri (WPDN) dan bentuk usaha tetap menjadi 10 persen.

    Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengungkapkan terbitnya PP ini merupakan bukti bahwa pemerintah terus melakukan reformasi struktural dalam rangka meningkatkan investasi dan produktivitas yang salah satunya dilaksanakan melalui UU Cipta Kerja.

     



    "Sebelumnya, pemerintah juga telah memberi keringanan tarif pajak bagi investor asing,” kata Febrio Kacaribu, dilansir dari Antara, Sabtu, 4 September 2021.

    Dengan PP ini, tarif PPh Pasal 4 ayat (2) UU PPh atas penghasilan bunga obligasi WPDN turun dari 15 persen menjadi 10 persen. Penurunan tarif ini merefleksikan upaya pemerintah dalam menciptakan kesetaraan dan keadilan bagi seluruh investor obligasi.

    "Janji pemerintah untuk merevisi PP 55/2019 tentang Perubahan Kedua atas PP 16/2009 tentang PPh Bunga Obligasi agar tercipta kesetaraan dan keadilan bagi seluruh kelompok investor terealisasi dengan disahkannya PP 91/2021 ini,” ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman.

    Dengan tarif PPh atas penghasilan bunga obligasi WPDN yang lebih ringan, pemerintah menargetkan peningkatan partisipasi investor domestik ritel (individu) pada pasar Surat Berharga Negara (SBN) yang per 31 Agustus 2021 baru mencapai 4,5 persen. Partisipasi investor ritel ini lebih rendah dibandingkan dengan investor bank sebesar 33,4 persen, asuransi dan dana pensiun 14,5 persen, dan asing 22,4 persen.

    Pasar obligasi Indonesia pun diharapkan tumbuh lebih baik  karena saat ini kapitalisasi pasar obligasi Indonesia baik milik swasta maupun pemerintah, baru mencapai 30,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

    Nilai kapitalisasi pasar ini pun lebih rendah dibandingkan negara ASEAN-5 lain, yakni Malaysia sebesar 122,7 persen dari PDB, Singapura 79,9 persen, Thailand 69,6 persen, dan Filipina 49,4 persen.

    “Pasar obligasi Indonesia sangat potensial. Pemerintah Indonesia ingin memastikan bahwa para investor dapat memanfaatkan keringanan pajak ini untuk berinvestasi dalam instrumen obligasi baik SBN maupun korporasi,” tambah Febrio.

    Sebelumnya, pemerintah telah terlebih dahulu menurunkan tarif PPh Pasal 26 atas penghasilan bunga obligasi yang diterima Wajib Pajak Luar Negeri atau WPLN selain Bentuk Usaha Tetap (BUT) dari yang sebelumnya 20 persen menjadi 10 persen atau sesuai Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B) yang mulai berlaku Agustus 2021.

    Penurunan tarif PPh bagi bunga obligasi ini diharapkan dapat membuat obligasi Indonesia semakin kompetitif dengan obligasi negara-negara ASEAN-5 yang tarif PPh atas bunga obligasinya juga sebesar 10 persen.

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id