Pengendalian Tembakau Lewat Simplifikasi Dukung Perbaikan Kesehatan Publik

    Eko Nordiansyah - 10 Agustus 2020 13:52 WIB
    Pengendalian Tembakau Lewat Simplifikasi Dukung Perbaikan Kesehatan Publik
    Ilustrasi industri rokok. Foto: Antara/Seno
    Jakarta: Pengendalian tembakau melalui kebijakan simplifikasi dinilai akan mewujudkan kesehatan publik yang lebih baik.

    Senior Advisor Human Rights Working Group (HRWG) Rafendi Djamin menjelaskan terdapat tiga unsur dalam kerangka kesehatan hak asasi manusia di antaranya menghargai, melindungi, dan memenuhi.

    Menurut dia, menghargai yang dimaksud adalah dalam konteks pengendalian tembakau, melindungi diartikan sebagai bentuk dan langkah kebijakan serta penegakannya, sementara memenuhi yakni menyangkut akses pelayanan kesehatan.

    "Persoalan pengendalian tembakau sebetulnya yang leading adalah WHO dan RPJMN kita sudah meletakkan prioritas pengendalian sebagai instrumen untuk mencapai tujuan pembangunan," kata dia dalam keterangan di Jakarta, Senin, 10 Agustus 2020.

    Salah satu langkah yang bisa diambil yakni menyederhanakan struktur tarif cukai yang banyak ditentang oleh industri hasil tembakau. Keputusan untuk menjalankan kembali penyederhanaan struktur tarif cukai hasil tembakau merupakan langkah tepat sebagai upaya pengendalian konsumsi tembakau.

    "Ini merupakan bagian dari komitmen mewujudkan hak masyarakat akan kesehatan publik yang lebih baik. Untuk itu, kami mendorong pemerintah segera merealisasikan kebijakan tersebut sehingga tujuan kesehatan dapat dicapai maksimal," ungkap dia.

    Struktur cukai yang saat ini sebanyak 10 layer membuat fungsi utama penerapan cukai, yakni melindungi kesehatan publik dan pengendalian tembakau, menjadi tidak efektif. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan, prevalensi merokok pada remaja usia sekolah atau usia 10-18 tahun justru mengalami kenaikan.

    Riset tersebut menunjukkan persentase perilaku merokok remaja pada 2018 mencapai 9,1 persen, meningkat tinggi ketimbang 2013 sebesar 7,2 persen, serta meleset jauh dari target Pemerintah sebesar 5,6 persen pada 2018. Jumlah ini juga diprediksi terus bertambah menjadi 15,8 juta anak atau 15,91 persen pada 2030.

    Penyederhanaan struktur tarif cukai hasil tembakau tertuang dalam RPJMN 2020-2024 yang tercantum pada Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020. Kementerian Keuangan juga telah merumuskan komitmen ini sebagai bagian dari reformasi fiskal melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 77 Tahun 2020.

    Namun demikian, kebijakan simplifikasi juga mendapatkan tentangan dari pelaku industri. Alasannya, simplifikasi akan mematikan industri rokok kecil dan menengah, serta menimbulkan oligopoli di industri hasil tembakau.

    Hal ini telah disanggah oleh Sekjen Transparency International Indonesia (TII) Dadang Trisasongko  yang menyatakan perlunya dijalankan kembali simplifikasi karena kebijakan ini akan mengoptimalkan penerimaan negara, mendukung pengendalian konsumsi rokok untuk tujuan kesehatan dan memberikan perlindungan terhadap segmen Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang mempekerjakan banyak buruh pelinting rokok serta pabrik rokok kecil dari persaingan langsung dengan pabrik rokok besar.

    "Berbagai studi telah menyarankan bahwa struktur cukai sederhana merupakan best practices bagi pengendalian konsumsi rokok," tegas Dadang.

    Dalam riset Bank Dunia sebelumnya menyatakan bahwa simplifikasi layer akan mengurangi dampak distorsi cukai rokok dan mengurangi peluang untuk penghindaran dan penggelapan pajak. Rekomendasi pelaksanaan simplifikasi struktur cukai ini kembali disampaikan Bank Dunia sebagai jalan keluar bagi pemerintah untuk mendukung pengeluaran kesehatan jangka panjang.
     

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id