LPEM UI Proyeksi BI Masih Tahan Bunga Acuan di Level 3,50%

    Husen Miftahudin - 17 November 2021 18:01 WIB
     LPEM UI Proyeksi BI Masih Tahan Bunga Acuan di Level 3,50%
    Bank Indonesia. Foto : MI/Usman Iskandar.



    Jakarta: Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memperkirakan Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo Rate untuk periode November 2021 di level 3,50 persen.

    Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan perkembangan terkini ekonomi global masih diwarnai dengan banyak peristiwa. Kombinasi dari program stimulus yang masif serta pemulihan yang terjadi lebih awal mendorong peningkatan permintaan agregat yang menciptakan tekanan inflasi.

     



    Kondisi tersebut memaksa diterapkannya pengetatan moneter, dimana salah satu negara tersebut adalah Amerika Serikat (AS), yang mulai menerapkan tapering off awal bulan ini.

    "Oleh karena itu, menahan suku bunga kebijakan di angka 3,50 persen merupakan langkah yang dirasa tepat untuk saat ini," ujar Riefky dalam rilis Analisis Makroekonomi yang dikutip Rabu, 17 November 2021.

    Riefky menjelaskan lebih lanjut bahwa menjelang penghujung tahun ini, pihaknya melihat banyak perkembangan terkini yang mengarah terhadap tingginya prospek pemulihan kesehatan dan ekonomi, baik di level internasional maupun domestik.

    Namun demikian, proses pemulihan di berbagai belahan dunia masih menunjukkan tingkatan yang berbeda-beda, yang berarti ketidakpastian masih relatif tinggi.

    "Dari aspek internasional, proses tapering off oleh AS telah dimulai dan tidak simetrisnya pemulihan suplai dalam mengantisipasi permintaan yang tertahan yang mendorong timbulnya krisis energi terjadi di banyak negara," paparnya.

    Dari sisi domestik, terkendalinya angka kasus harian covid-19 telah mendorong terciptanya momentum baru dari pemulihan ekonomi. Disrupsi di sektor riil dalam bentuk apapun dapat mengganggu proses pemulihan yang sedang berlangsung.

    "Mempertimbangkan berbagai aspek tersebut, pelonggaran moneter saat ini berpotensi memperparah arus modal keluar dan kita masih jauh dalam tahap ideal untuk mengimplementasikan pengetatan moneter tanpa membahayakan pemulihan di sektor riil," pungkas Riefky. 


    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id