Penutupan Kantor Cabang Bank dan Gerai ATM Bakal Terus Berlanjut

    Husen Miftahudin - 10 September 2020 14:04 WIB
    Penutupan Kantor Cabang Bank dan Gerai ATM Bakal Terus Berlanjut
    Ilustrasi anjungan tunai mandiri - - Foto: Antara/ Wahyu Putro
    Jakarta: Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai penutupan kantor cabang bank dan gerai Anjungan Tunai Mandiri (ATM) akan terus berlanjut seiring meningkatnya tren digitalisasi.

    Kondisi ini juga semakin didukung penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diperketat oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Alhasil, masyarakat akan semakin banyak untuk beralih ke transaksi digital.

    "Beli barang kebutuhan pokok pakai e-commerce, bayarnya menggunakan dompet digital. Pinjam uang lebih cepat lewat fintech," ujar Bhima kepada Medcom.id, Kamis, 10 September 2020.

    Menurutnya, hal ini merupakan transformasi yang tak bisa dielakkan lantaran adanya pergeseran kebutuhan masyarakat yang menuntut adanya kemudahan dan kecepatan dalam bertransaksi dan mengakses layanan jasa keuangan. Tidak ada opsi lain kecuali berpindah ke sistem pembayaran tanpa uang tunai atau cashless.
     
    Transformasi ke nontunai didukung dua alasan. Pertama, transaksi tunai rawan terjadi penularan pandemi covid-19 lantaran adanya kontak fisik. Dengan transaksi keuangan digital, penyebaran covid-19 bisa dicegah.

    "Kedua, karena terjadi efisiensi dalam transaksi digital. Secara keamanan juga menguntungkan nasabah," tegas Bhima.

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya menyatakan penerapan teknologi layanan jasa keuangan seiring dengan kebutuhan nasabah yang cepat dan efisien justru menimbulkan disrupsi. Tak ayal kondisi ini berdampak pada penutupan ribuan kantor cabang bank dan menurunnya jumlah penambahan gerai ATM.

    "Penutupan kantor cabang bank, sejak 2012 atau delapan tahun terakhir itu semakin tinggi. Ribuan kantor bank sudah ditutup, jumlah pembukaan ATM juga semakin menurun, artinya lebih banyak sekarang bank-bank bertransaksi secara elektronik," kata Deputi Komisioner OJK Institute dan Keuangan Digital OJK Sukarela Batunanggar dalam webinar dengan tema Transformasi BPR: Inovasi dan Kolaborasi, Selasa, 8 September 2020.

    Berdasarkan hasil wawancara dengan sejumlah pimpinan perbankan umum, Sukarela menyimpulkan bahwa sekitar 70 persen sampai 80 persen transaksi perbankan sekarang ini telah dilakukan secara elektronik menggunakan teknologi mutakhir.

    Jika tidak melakukan transformasi layanan mengarah ke digitalisasi, bisnis bank akan mulai ditinggalkan nasabah. Kehadiran fintech menjadi tantangan bagi bank untuk mempercepat transformasi layanan dan bisnis ke depannya.

    Sayangnya bila dibandingkan dengan fintech, bank justru memiliki mindset dan infrastruktur yang cenderung membatasi perubahan. Sekalipun itu bank-bank besar yang mengklaim telah mengadopsi metode yang agile (tangkas) dan fashionable, ungkap Sukarela, mereka ternyata belum benar-benar melakukan transformasi.

    "Jadi artinya, salah satu risiko yang paling besar adalah bisnis as usual, menganggap segala sesuatunya itu masih normal. Padahal kita sekarang sudah tidak normal, bahkan new normal," ujar dia.

    (Des)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id