OJK Dorong Bergeraknya Sektor Riil di Era Kenormalan Baru

    Husen Miftahudin - 24 Juni 2020 20:31 WIB
    OJK Dorong Bergeraknya Sektor Riil di Era Kenormalan Baru
    Ilustrasi Otoritas Jasa Keuangan - - Foto: Antara/ Mohammad Ayudha
    Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong sektor riil kembali bergerak dalam era adaptasi kenormalan baru (new normal). Hal ini ditunjang dengan stabilitas sektor jasa keuangan yang terjaga dan kinerja intermediasi yang positif serta profil risiko tetap terkendali.

    "OJK mendukung langkah pemerintah yang menempatkan uang negara kepada bank umum dalam rangka percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN)," kata Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK Anto Prabowo dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id di Jakarta, Rabu, 24 Juni 2020.

    Pada posisi Mei 2020, kredit perbankan tumbuh sebesar 3,04 persen (yoy). Sementara piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan terkontraksi sebesar 5,1 persen (yoy).

    Adapun penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh sebesar 8,87 persen (yoy). Di sisi lain industri asuransi berhasil menghimpun tambahan premi sebesar Rp15,6 triliun, terdiri atas asuransi jiwa sebesar Rp8,86 triliun serta asuransi umum dan reasuransi sebanyak Rp6,69 triliun.

    Sementara sampai dengan 23 Juni 2020, penghimpunan dana melalui pasar modal tercatat mencapai Rp39,6 triliun dari 22 emiten. Di dalam pipeline telah terdapat 83 emiten yang akan melakukan penawaran umum dengan total indikasi penawaran sebesar Rp44,6 triliun

    Profil risiko lembaga jasa keuangan pada Mei 2020 masih terjaga pada level yang terkendali dengan rasio NPL gross tercatat sebesar 3,01 persen dan rasio NPF sebesar 3,99 persen.

    Risiko nilai tukar perbankan juga dapat dijaga pada level rendah, terlihat dari rasio Posisi Devisa Neto (PDN) sebesar 2,31 persen, jauh di bawah ambang batas ketentuan sebesar 20 persen.

    Sementara itu, likuiditas dan permodalan perbankan berada pada level yang memadai. Hingga 17 Juni, rasio alat likuid/non-core deposit dan alat likuid DPK terpantau pada level 123,2 persen dan 26,2 persen, jauh di atas threshold masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen.

    Permodalan lembaga jasa keuangan terjaga stabil pada level yang memadai. Capital Adequacy Ratio (CAR) Bank Umum Konvensional tercatat sebesar 22,16 persen serta Risk-Based Capital (RBC) industri asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing sebesar 627 persen dan 314 persen, jauh di atas ambang batas ketentuan sebesar 120 persen.


    Perekonomian Indonesia pada kuartal II-2020 diprediksi akan mengalami kontraksi, didasari antara lain oleh rilis data penjualan retail dan tingkat inflasi yang kurang positif. Selain itu, sektor ketenagakerjaan dan aktivitas manufaktur juga belum menunjukkan adanya perbaikan yang signifikan.

    Sementara sentimen positif stimulus moneter bank sentral global berdampak positif terhadap kinerja pasar keuangan domestik yang bergerak menguat pada Juni 2020. Sampai dengan 19 Juni 2020, pasar saham menguat sebesar 3,97 persen (mtd) dan pasar SBN relatif stabil dengan yield rata-rata menguat sebesar 19,4 bpsmtd.

    Sejalan dengan penguatan tersebut, investor nonresiden mencatatkan net buy sebesar Rp1,83 triliun mtd (pasar saham: net sell Rp1,24 triliun; pasar SBN: net buy Rp3,07 triliun).

    "OJK akan menyiapkan protokol adaptasi kebiasaan baru yang akan berlaku bagi seluruh Industri Jasa keuangan sehingga layanan terhadap masyarakat dapat dilakukan dengan tetap meminimalkan potensi penyebaran covid-19," tutup Anto.




    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id